CIREMAITODAY.COM, KUNINGAN – Di tengah geliat pembangunan dan pesatnya perkembangan pariwisata Desa Wisata Cibuntu kembali mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan warisan leluhur. Pesan itu mengemuka dalam tradisi Gelar Budaya Sedekah Bumi di Desa Cibuntu, Pasawahan, Kuningan.
Bagi masyarakat Cibuntu, Sedekah Bumi bukan sekadar ritual adat yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menjadi ruang untuk merawat rasa syukur, mempererat persaudaraan, sekaligus meneguhkan kesadaran bahwa alam merupakan titipan yang harus dijaga, bukan sumber daya yang boleh dieksploitasi tanpa batas.
Pesan tersebut mendapat penekanan khusus dari Bupati Kuningan, Dr H Dian Rachmat Yanuar yang hadir langsung di tengah masyarakat dan para pemangku adat.
Di hadapan warga dan tamu undangan, Dian mengingatkan bahwa bumi, langit, pepohonan, dan sumber air bukanlah milik manusia sepenuhnya. Semua itu merupakan amanah yang harus diwariskan dalam kondisi baik kepada generasi berikutnya.
“Bumi, langit, pohon, dan air bukanlah warisan. Ini adalah titipan yang harus kita titipkan kembali kepada anak cucu kita,”tegasnya, Minggu (18/10).
Peringatan itu bukan tanpa alasan. Menurut Dian, jika kelestarian lingkungan diabaikan, bukan tidak mungkin udara bersih dan air jernih yang selama ini dinikmati masyarakat justru menjadi sesuatu yang sulit diperoleh dalam 10 hingga 15 tahun mendatang.
Karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan Sedekah Bumi sebagai momentum untuk membangun kesadaran ekologis, bukan berhenti pada kemeriahan seremoni tahunan.
Dalam perspektif spiritual, Dian juga menegaskan bahwa ungkapan syukur melalui Sedekah Bumi sejatinya ditujukan kepada Allah SWT sebagai Sang Maha Pemberi Rezeki. Bumi bukanlah pemberi kehidupan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari ciptaan-Nya yang wajib dirawat oleh manusia.
Manusia, lanjutnya, tidak memiliki kuasa mutlak atas alam. Hujan, kesuburan tanah, dan ketersediaan air tidak bisa dihadirkan sesuka hati. Kesadaran atas keterbatasan itu semestinya mendorong manusia untuk lebih bijaksana dalam memperlakukan lingkungan.
Di balik pesan pelestarian alam tersebut, Cibuntu menyimpan kisah perubahan yang tidak sederhana. Desa yang dahulu dikenal sebagai kawasan galian dengan kondisi panas itu kini menjelma menjadi desa wisata yang diperhitungkan, bahkan dikenal hingga tingkat internasional.
Dian mengapresiasi perjalanan panjang tersebut. Perubahan Cibuntu tidak lahir secara instan, melainkan melalui kerja keras para kepala desa terdahulu, peran sesepuh, serta semangat gotong royong masyarakat dalam membangun potensi wilayahnya.
“Saya mengajak masyarakat agar terus memegang teguh nilai-nilai luhur Sunda yakni silih asah, silih asih, silih asuh, serta prinsip someah hade ka semah yang menekankan keramahan kepada tamu,” ajaknya.
Menurutnya, keramahan dan karakter masyarakat merupakan bagian penting dari daya tarik pariwisata. Destinasi yang kuat bukan hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menghadirkan suasana hangat, rasa aman, dan pengalaman budaya yang berkesan.
“Pemerintah daerah sudah menjadwalkan ajang lari lintas alam (trail run) bertaraf internasional pada awal tahun depan. Desa Wisata Cibuntu ini salah satu rute utama yang akan dilalui peserta,” ujarnya.
Rencana tersebut membuka peluang bagi Cibuntu untuk memperluas jangkauan promosi wisata, sekaligus memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Kuningan kepada pengunjung dari berbagai daerah maupun mancanegara.
Sementara itu, Kepala Desa Cibuntu, Dadi Kurniadi menjelaskan, bahwa Sedekah Bumi di desanya memiliki makna filosofis yang dirangkum dalam istilah Sabumi.
Secara harfiah, sa berarti satu, sedangkan bumi dimaknai sebagai hamparan atau wadah tempat kehidupan berlangsung. Filosofi ini mengingatkan bahwa manusia, dengan segala perbedaan latar belakangnya, pada hakikatnya hidup dalam satu ruang kehidupan yang sama.
Menurut Dadi, seluruh manusia berasal dari asal-usul yang sama, bergantung pada sumber pangan dan bahan kehidupan yang tersedia di bumi, serta pada akhirnya akan kembali ke tempat asalnya.
“Tradisi Sabumi ini diselenggarakan sebagai bukti pengakuan bahwa semua manusia itu berada dalam satu wadah, tercipta dari asal-usul yang sama, mengonsumsi pangan dan papan dari bahan yang sama, dan akan kembali ke tempat yang sama sesuai asal-usulnya,”ungkapnya.(dri)
The post Sedekah Bumi Cibuntu Kuningan, Merawat Alam dan Tradisi Leluhur appeared first on Ciremai Today.