Kasus Dugaan Keracunan MBG Cirebon Tembus 395 Orang, Pusat Didesak Bertindak - ciayumajakuning

Halaman ini telah diakses: Views
Ciremai Today
Tagline: Jendela Informasi Jawa Barat 
Kasus Dugaan Keracunan MBG Cirebon Tembus 395 Orang, Pusat Didesak Bertindak
Oct 23rd 2026, 11:51 by Tarjoni

CIREMAITODAY.COM, CIREBON – Tim Parlemen Bayangan Indonesia Pasti, Heru Subagja, menyoroti sikap pemerintah pusat dalam menangani kasus dugaan keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon. Ia mendesak pemerintah pusat menunjukkan tanggung jawab setelah jumlah korban mencapai 395 orang berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cirebon.

Heru menilai, besarnya jumlah korban semestinya mendorong pejabat pusat turun langsung untuk melihat kondisi para korban sekaligus mengevaluasi pelaksanaan program MBG. Namun, ia menyoroti belum adanya tindakan nyata dari pemerintah pusat yang dinilainya sebanding dengan besarnya persoalan tersebut.

“Tidak ada helikopter kepresidenan yang mendarat, tidak ada iring-iringan mobil menteri koordinator yang membelah jalanan Cirebon, dan bahkan tidak ada satupun pernyataan resmi yang menunjukkan rasa prihatin yang mendalam dari para petinggi negeri,” ujarnya, Jumat (23/10/2026).

Menurut Heru, kasus yang menimpa ratusan anak sekolah itu menjadi ujian bagi pemerintah dalam memastikan keamanan dan pengawasan program MBG. Ia mempertanyakan keseriusan pemerintah pusat dalam mengevaluasi sistem pengawasan, termasuk memeriksa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut.

“Ada dua kesimpulan logis yang bisa ditarik dari sikap diam ini: pemerintah pusat memang tidak tahu cara memberikan solusi, atau mereka sedang mencoba melarikan diri dari kenyataan pahit bahwa program kebanggaan ini memiliki celah fatal pada sistem pengawasannya,” tandasnya.

Heru Pertanyakan Tanggung Jawab Pemerintah Pusat

Heru juga mempertanyakan peran jajaran pemerintah pusat yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan MBG. Menurut dia, penanganan kasus ini tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah daerah, mengingat MBG merupakan program strategis nasional.

Ia menilai, pemeriksaan terhadap kondisi korban dan dapur penyedia makanan menjadi bagian penting dalam mengevaluasi pelaksanaan program tersebut.

“Apakah melihat langsung kondisi fisik anak-anak yang menjadi korban serta memeriksa dapur Satuan Pelayanan Makanan (SPM/SPPG) yang diduga menjadi sumber pencemaran bukan merupakan hal yang substansial bagi kelanjutan proyek ini?” ucapnya.

Heru mengkritik pola birokrasi yang dinilainya lebih menonjolkan peluncuran program daripada tanggung jawab ketika muncul persoalan di lapangan. Ia mengingatkan, anggaran besar yang bersumber dari uang rakyat harus diiringi pengawasan ketat dan jaminan keamanan makanan bagi anak-anak.

Dukung Mahasiswa Kawal Kasus MBG

Di tengah persoalan tersebut, Heru menyatakan dukungannya terhadap gerakan mahasiswa dan elemen masyarakat yang menyuarakan evaluasi program MBG di Cirebon.

Ia menilai, demonstrasi dan advokasi mahasiswa merupakan bagian dari kontrol sosial untuk mendorong transparansi serta memastikan persoalan tersebut ditangani secara serius.

“Demonstrasi dan advokasi yang dilakukan mahasiswa bukanlah bentuk antipati, melainkan sebuah tindakan penyelamatan,” katanya.

Heru juga menyoroti perlunya keterbukaan mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap sampel makanan serta kejelasan proses penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan kelalaian.

Menurut dia, kepastian penyebab kejadian dan pertanggungjawaban pihak terkait menjadi hal penting agar persoalan serupa tidak terulang.

Desak Evaluasi Menyeluruh Program MBG

Heru menegaskan, kasus dugaan keracunan massal di Kota Cirebon harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi pelaksanaan MBG secara menyeluruh. Ia mengingatkan, keselamatan anak-anak harus menjadi prioritas dalam menjalankan program yang menggunakan anggaran negara tersebut.

Ia juga mempertanyakan kesediaan pemerintah pusat untuk datang langsung ke Cirebon dan melihat persoalan yang terjadi di lapangan.

“Cirebon hanya dua jam dari Jakarta. Kereta tersedia setiap hari. Pertanyaannya sekarang bukan lagi soal jarak fisik, melainkan soal jarak hati dan empati para penguasa kepada rakyatnya,” pungkasnya.

The post Kasus Dugaan Keracunan MBG Cirebon Tembus 395 Orang, Pusat Didesak Bertindak appeared first on Ciremai Today.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url