CIREMAITODAY.COM, KUNINGAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kembali melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) diperkirakan telah menghanguskan areal seluas 50 hingga 60 hektare. Hingga kini, tim gabungan masih berjibaku memadamkan api di tengah medan yang terjal, akses sulit, serta terbatasnya sumber air di sekitar titik kebakaran.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Toni Anwar mengatakan, angka tersebut merupakan perkiraan awal berdasarkan kondisi penanganan di lapangan. Saat ini, upaya pemadaman masih menjadi prioritas utama untuk mencegah api meluas ke kawasan lain.
“Fokus kami saat ini masih pada pemadaman. Kendala utama di lapangan adalah kondisi medan, akses menuju titik api, serta ketersediaan air,”ungkapnya, Jumat (23/10).
Menurutnya, kondisi geografis kawasan yang sulit dijangkau menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Keterbatasan air di sekitar lokasi kebakaran, juga membuat proses pemadaman membutuhkan dukungan dan koordinasi yang intensif dari berbagai pihak.
Demi mempercepat penanganan, Balai TNGC terus memperkuat koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan. Sinergi lintas sektor dinilai penting agar upaya pemadaman dapat berlangsung secara efektif dan terpadu.
Pihaknya mengapresiasi, dukungan berbagai unsur yang terlibat dalam penanganan karhutla tersebut. Personel gabungan berasal dari TNI, Polri, masyarakat yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), mitra wisata, Paguyuban Siliwangi, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, BPBD, hingga para relawan.
“Alhamdulillah, kami mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak. Kami memohon dukungan seluruh lapisan masyarakat, agar upaya pemadaman berjalan lancar dan api segera dapat diatasi,”katanya.
Di tengah upaya pengendalian kebakaran, dampak terhadap keanekaragaman hayati juga menjadi perhatian. Toni menyebutkan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai satwa liar yang terdampak secara signifikan akibat kebakaran tersebut.
Berdasarkan karakteristik kawasan yang terbakar, lanjutnya, sebagian besar areal merupakan lahan terbuka berupa semak belukar dan savana. Sedangkan sebagian lainnya berupa tegakan pohon pinus.
Lokasi kebakaran juga disebut bukan merupakan habitat utama satwa prioritas. Kondisi lahan yang relatif terbuka, memungkinkan satwa liar bergerak menjauh untuk menghindari kobaran api.(dri)
The post 60 Hektare Lahan Kawasan Ciremai Terdampak Karhutla appeared first on Ciremai Today.