Beberapa bulan yang lalu, sebuah tugas dinas dari kampus membawa langkah saya kembali menyusuri bentang alam tapal kuda yang menakjubkan. Sebagai seorang akademisi yang sehari-hari bergelut dengan ruang dan lingkungan hidup, perjalanan ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban, melainkan sebuah ziarah geografis yang dinanti-nantikan.
Kami bertolak dari Kabupaten Jember menuju arah timur laut, membelah jalanan yang perlahan menanjak menuju kawasan Ijen Geopark. Sepanjang perjalanan, pelupuk mata kami dimanjakan oleh vegetasi hijau yang rapat dan udara yang berangsur-angsur berubah menjadi sejuk menusuk kulit. Barisan pegunungan yang berselimut kabut tipis seolah menjadi tirai pembuka sebelum kami menyaksikan salah satu mahakarya geologi terbaik yang dimiliki oleh Jawa Timur.
Tujuan utama kami adalah Kawah Wurung, sebuah destinasi yang terletak di wilayah administrasi Kabupaten Bondowoso. Secara etimologis dalam bahasa Jawa, kata "wurung" memiliki arti gagal atau batal. Nama ini bukanlah sebuah kebetulan belaka, melainkan sebuah deskripsi akurat atas fenomena vulkanologis yang terjadi ribuan tahun silam.
Kawah Wurung sejatinya adalah sebuah manifestasi dari gunung api yang gagal membentuk kawah sempurna. Proses magmatis yang tidak tuntas membuat struktur kepundan ini tidak terisi oleh danau air asam pekat seperti tetangganya, Gunung Ijen, melainkan menyisakan sebuah cekungan raksasa yang bagian bawahnya bertransformasi menjadi padang rumput (sabana) yang sangat eksotis dan bergelombang dinamis.
Ketika kaki ini pertama kali menapak di bibir bukitnya, sejauh mata memandang, hamparan permadani hijau tampak membentang tanpa batas. Lanskap ini mengingatkan saya pada keelokan lembah-lembah di Swiss atau kawasan pegunungan Eropa Barat saat musim panas tiba.
Pesona Kawah Wurung dengan hamparan padang rumputnya (dokumentasi pribadi)
Angin pegunungan yang bertiup kencang menciptakan gelombang pada hamparan rumput, menghadirkan harmoni visual yang begitu menenangkan. Keindahan dramatis inilah yang membuat Kawah Wurung tidak pernah sepi dari pemburu estetika visual, mulai dari fotografer lanskap hingga sepasang kekasih yang sedang mengabadikan momen menjelang pernikahan melalui sesi foto pre-wedding.
Di balik pesona visualnya yang memikat, Kawah Wurung adalah sebuah laboratorium alam yang kaya akan muatan edukasi. Secara geologis, kawasan ini merupakan bagian penting dari anak gunung api yang tumbuh di dalam kaldera raksasa Ijen Purba—sebuah struktur depresi vulkanik kuno berdiameter sekitar 20 kilometer yang terbentuk akibat letusan katastrofik masa lampau.
Dalam kunjungan lapangan ini, kami melakukan pengamatan komprehensif terhadap berbagai elemen fisik dan sosial. Kami meneliti jenis batuan piroklastik dan material vulkanik produk bentukan Ijen purba, mengamati suksesi vegetasi rumput dan makrofita yang beradaptasi dengan iklim pegunungan ber-amplitudo suhu harian tinggi, serta menganalisis bagaimana aktivitas sosial-ekonomi masyarakat lokal terjalin di sekitarnya, mulai dari sektor pariwisata hingga pemanfaatan lahan sebagai area penggembalaan ternak tradisional.
Perjalanan ini kembali menyadarkan kita bahwa keindahan dunia yang megah tidaklah selalu berada di benua yang jauh. Kita tidak perlu bersusah payah merogoh kocek dalam-dalam untuk terbang ke luar negeri demi menikmati bentang alam sabana yang memukau. Datang dan saksikanlah sendiri bagaimana Bondowoso merajut kecantikan alamnya dengan begitu anggun dan bersahaja.
Selama ini, Bondowoso mungkin lebih dikenal luas oleh masyarakat awam lewat legitimasi kuliner legendarisnya, yakni tape singkong yang manis dan legit. Namun, kabupaten ini menyimpan potensi pariwisata geologi (geotourism) yang jauh lebih masif dan unik. Selain Kawah Wurung yang menawan hati, bumi Bondowoso juga dianugerahi destinasi kelas dunia lainnya.
Sebut saja Kawah Ijen dengan fenomena api birunya yang mendunia, hamparan batu hitam legam sisa pembekuan magma di Black Lava Plalangan, hangatnya pemandian air panas alami Blawan, hingga keunikan aliran sungai berasam pekat di Kalipait. Semua destinasi tersebut berada dalam satu kesatuan koridor Ijen Geopark yang saling terintegrasi.
Menutup catatan perjalanan ini, saya ingin mengetuk rasa penasaran dan kebanggaan kita terhadap kekayaan alam ibu pertiwi. Kawah Wurung dan jejaring wisatanya adalah bukti nyata bahwa Indonesia memiliki serpihan surga tersembunyi yang menunggu untuk diapresiasi dan dipelajari lebih dalam. Oleh karena itu, siapkan catatan perjalanan Anda, atur waktu luang bersama keluarga atau rekan sejawat, dan yuk, segera berkunjung menikmati magisnya alam Bondowoso!