Sering Dianggap Wajar, padahal Kebiasaan Sulit Menahan Kencing Perlu Diobati! - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Sering Dianggap Wajar, padahal Kebiasaan Sulit Menahan Kencing Perlu Diobati!
Jul 3rd 2026, 18:30 by kumparanMOM

Sering Dianggap Wajar, Urinary Incontinence Perlu Diwaspadai. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock
Sering Dianggap Wajar, Urinary Incontinence Perlu Diwaspadai. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock

Meski dialami banyak perempuan, urinary incontinence atau sulit menahan kencing masih kerap dianggap sebagai kondisi yang memalukan atau bagian normal dari proses penuaan.

Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan seharusnya mendapatkan penanganan yang tepat.

Banyak Perempuan Memilih Diam karena Malu

Data menunjukkan sekitar satu dari tiga perempuan pernah mengalami urinary incontinence. Namun, menurut Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U. (K), PhD, masih banyak perempuan yang enggan mencari pertolongan medis.

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), PhD. Foto: Eka Nurjanah/kumparan
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), PhD. Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Menurutnya, ada beberapa alasan yang membuat perempuan memilih diam. Selain merasa malu, tidak sedikit yang menganggap kebocoran urine merupakan kondisi yang wajar seiring bertambahnya usia.

"Misalnya ada pertambahan usia. Jadi memang ‘Sudah sewajarnya lah saya begini karena saya sudah bertambah usianya’,” ucapnya kepada kumparanMOM dalam acara Peresmian Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic Siloam Hospitals Asri, pada Selasa (30/6).

Selain itu, ada pula anggapan bahwa kondisi tersebut tidak dapat diobati sehingga konsultasi ke dokter dianggap tidak akan memberikan manfaat.

Urinary Incontinence Bisa Ditangani Tanpa Harus Operasi

Ilustrasi buang air kecil Foto: Shutterstock
Ilustrasi buang air kecil Foto: Shutterstock

Prof. Harrina menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Hingga saat ini tersedia berbagai pilihan terapi untuk menangani urinary incontinence, dan tidak semuanya memerlukan tindakan operasi.

Menurutnya, penanganan biasanya dimulai dengan terapi sederhana dan non-operatif. Langkah awal dapat berupa perubahan gaya hidup, menghilangkan faktor-faktor risiko yang memperburuk kondisi, serta menjalani terapi sesuai penyebab yang dialami pasien.

“Ini semua bisa menangani pasien dengan baik tanpa harus sampai ke yang canggih-canggih atau yang terlalu invasif,” imbuhnya.

Oleh karena itu, perempuan yang mengalami keluhan sulit menahan buang air kecil tidak perlu merasa malu atau menunggu kondisinya semakin parah. Semakin cepat berkonsultasi dengan tenaga medis, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang sesuai sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url