Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pengukuran kandungan gas pada api yang membakar sebuah baju di rumah Mutfiana warga Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (1/6/2026). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali melakukan observasi lapangan di lokasi kebakaran misterius yang terjadi puluhan kali di sebuah rumah di Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, pada Senin (1/6).
Dalam observasi itu, tim peneliti menemukan adanya lonjakan hidrogen di ruangan yang jadi titik nyala api.
"Kita analisis kenapa kok hidrogennya naik, terutama di ruangan yang tadi (jadi lokasi titik nyala api)," kata Koordinator Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM, Alva Edy Tontowi, kepada wartawan.
"Gas hidrogen itu 11, 12, 11, 12 ke atas itu kemudian mulai menyala (api)," katanya.
Petugas BPBD mengamati barang-barang yang terbakar di rumah Mutfiana, warga Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (1/6/2026). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Lokasi dengan kenaikan konsentrasi gas yang tinggi berada di kamar, tempat di mana beberapa kain terbakar.
Alva mengatakan data-data yang telah diambil akan dimasukkan ke laboratorium untuk dianalisis secara ilmiah.
Hipotesis yang dikaji adalah kemungkinan fenomena auto ignition atau spontaneous ignition.
"Dalam bahasa ilmiahnya salah satu terminologinya adalah auto ignition atau spontaneous ignition. Jadi itu dia akan menyala sendiri dalam satu kondisi yang sudah posisinya, sudah stoikiometri barangkali gitu ya.
"Nah, menyalanya memang di media-media ada media kaus, kalau yang kejadian sebelumnya kan ada media-media yang lain dari plastik, dari yang lain-lain," ujarnya.
Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pengukuran kandungan gas pada sebuah rumah di Seyegan, Sleman, D.I Yogyakarta, Senin (1/6/2026). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Guru Besar Ilmu Vulkanologi Fakultas Teknik UGM Agung Harijoko turut angkat bicara soal temuan lonjakan gas hidrogen.
"Yang di tempat yang terbakar, di ruangan tadi itu yang ada spike langsung naik tinggi, itu adalah gas hidrogennya," kata Agung.
"Jadi memang gas H2 itu kan mempunyai suhu untuk bisa menyala sendiri itu bahkan di ruangan, suhu ruangan itu bisa menyala sendiri," katanya.
Sejauh ini supseknya adalah gas hidrogen. Namun dari mana sumber gas hidrogen itu dan mekanisme pembentukan gas hidrogen perlu ditelaah lagi.
"Kemudian juga kami mengambil sampel air. Sampel air dari sumur," katanya.