Ruthie Pasaribu, Perempuan yang Bantu Orang Lebih Percaya Diri Lewat Fashion. Foto: kumparan/Jamal Ramadhan
Ruthie Pasaribu pernah bercita-cita menjadi fashion designer saat remaja. Ketertarikannya pada dunia fashion bahkan membawanya menempuh pendidikan Fashion Design & Pattern Making di ESMOD Jakarta.
Saat itu, ia membayangkan masa depannya akan diisi dengan kegiatan mendesain pakaian dan berkarya lewat berbagai koleksi busana. Namun, semakin lama belajar dan mengenal industri fashion, Ruthie justru menyadari bahwa dirinya tidak terlalu menikmati proses tersebut.
Ruthie merasa ada sesuatu yang kurang sesuai dengan dirinya. Kesadaran itu datang ketika ia mulai memahami apa yang benar-benar membuatnya bersemangat dalam dunia fashion.
“Saat itu aku merasa seperti terkhianati oleh cita-citaku sendiri. Cuma ini bukan soal salah jurusan, tapi cita-cita yang aku perjuangkan ternyata nggak sesuai dengan diriku. And it’s okay,” kata Ruthie kepada kumparanWOMAN.
Kesadaran tersebut sempat membuatnya bingung. Ia mencintai fashion, tetapi tidak ingin menjadi desainer maupun memiliki brand sendiri.
Momen yang Mengubah Cara Pandangnya terhadap Fashion
Momen yang Mengubah Cara Pandangnya terhadap Fashion. Foto: kumparan/Jamal Ramadhan
Di tengah kebingungan itu, Ruthie memutuskan untuk mengambil waktu untuk dirinya sendiri. Ia mencoba memahami apa yang sebenarnya ia sukai dan apa yang membuatnya merasa hidup.
Suatu hari, ia membentangkan kertas pola besar di lantai dan mulai menuliskan berbagai hal tentang dirinya. Mulai dari hal-hal yang ia sukai, tidak sukai, kemampuan yang dimiliki, hingga aktivitas yang membuatnya merasa bersemangat.
Dari proses refleksi tersebut, Ruthie menemukan satu benang merah yang selama ini tidak ia sadari. Ia menyukai fashion, tetapi bukan karena ingin menciptakan pakaian. Ia justru senang melihat orang lain tampil lebih menarik dan lebih percaya diri. Ia juga menikmati proses berbelanja, mencari barang yang tepat, serta membantu orang lain menemukan pakaian yang sesuai dengan dirinya.
Bahkan, menurutnya, ia sering kali lebih senang membelanjakan orang lain dibandingkan membeli sesuatu untuk dirinya sendiri. Temuan itu membuat Ruthie melihat industri fashion dari sudut pandang yang berbeda. Menurutnya, banyak orang yang menyukai fashion, tetapi belum benar-benar memahami dirinya sendiri. Di saat yang sama, brand terus menghadirkan tren baru yang belum tentu cocok untuk semua orang. Dari situlah ide untuk menjadi image consultant mulai muncul.
Melihat Celah yang Belum Banyak Dilirik
Melihat Celah yang Belum Banyak Dilirik. Foto: kumparan/Jamal Ramadhan
Ruthie menyadari bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda dalam berpakaian. Bentuk tubuh, profesi, aktivitas sehari-hari, hingga tujuan hidup seseorang dapat memengaruhi cara mereka membangun citra diri.
Karena itu, menurutnya, fashion tidak bisa diperlakukan sebagai sesuatu yang seragam. Ia mencontohkan, dua orang dengan tinggi dan berat badan yang sama belum tentu cocok mengenakan model pakaian yang sama. Ada banyak faktor lain yang perlu diperhatikan, mulai dari proporsi tubuh hingga aktivitas sehari-hari.
Tak hanya itu, profesi juga menjadi pertimbangan penting. Seseorang yang bekerja di kantor hukum tentu memiliki kebutuhan berpakaian yang berbeda dengan mereka yang bekerja di lapangan atau harus menggunakan transportasi umum setiap hari.
Menurut Ruthie, memahami hal-hal tersebut jauh lebih penting dibanding cuma ikut-ikutan tren yang lagi viral semata.
Membangun DARE Image Consultant dari Nol
Membangun DARE Image Consulting dari Nol. Foto: kumparan/Jamal Ramadhan
Berangkat dari pemikiran tersebut, Ruthie bersama sahabatnya, Susan, mendirikan DARE Image Consultant pada 2007. Namun, membangun bisnis image consulting saat itu bukanlah perkara mudah. Tantangan yang mereka hadapi bukan hanya mencari klien, tetapi juga memperkenalkan profesi image consultant kepada masyarakat. Saat itu, masih banyak orang yang mengira pekerjaan mereka hanya sebatas memilihkan pakaian atau menemani klien berbelanja.
Padahal, layanan yang diberikan jauh lebih luas. Mulai dari personal styling, closet edit, personal color analysis, hingga membantu seseorang membangun citra diri yang sesuai dengan profesi dan tujuan yang ingin dicapai.
Dalam prosesnya, Ruthie biasanya memulai dengan sesi self-assessment untuk mengenal klien lebih dalam. Ia ingin memahami siapa klien tersebut, bagaimana kesehariannya, serta seperti apa citra yang ingin dibangun. Setelah itu, ia akan membantu klien mengenali karakteristik fisiknya, mulai dari bentuk tubuh, warna kulit, hingga warna rambut.
Salah satu layanan yang cukup sering dilakukan adalah closet edit. Dalam proses ini, Ruthie datang langsung ke rumah klien untuk melihat isi lemari mereka.
“Nah, dari situ baru kita ke rumah klien, kita bongkar rumahnya, closet edit, udah punya atau nggak punya, atau apa yang udah benar atau nggak, nanti kita pisahkan. Nah, dari kita closet edit, kita punya personal punya shopping list, apa-apa aja yang harus dibeli. Jadi kita belanja bareng, kita belanja hanya yang kita perlu untuk complete the capsule wardrobe sama isi lemarinya,” jelasnya.
Menurut Ruthie, tujuan akhirnya bukan membuat klien memiliki lebih banyak pakaian, melainkan membantu mereka memiliki lemari yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan.
Menjalani Dua Karier Sekaligus
Menjalani Dua Karier Sekaligus. Foto: kumparan/Jamal Ramadhan
Meski DARE Image Consultant sudah berdiri sejak 2007, selama bertahun-tahun Ruthie masih menjalani pekerjaan penuh waktu di berbagai sektor industri fashion. Ia pernah bekerja di bidang retail, event organizer, hingga berbagai perusahaan yang masih berkaitan dengan dunia fashion dan gaya hidup.
Konsekuensinya, DARE Image Consultant hanya bisa dijalankan di sela-sela kesibukannya. Sebagian besar klien dilayani saat akhir pekan atau ketika ia mengambil cuti dari pekerjaan utama.
“Dulu aku selalu nunggu weekend atau ambil jatah cuti demi klien. Aku sadar banyak peluang yang lewat karena tenagaku terbagi dua. Ada rasa nggak tenang kalau nggak beneran fokus,” katanya.
Semakin lama, Ruthie mulai menyadari bahwa banyak kesempatan yang terlewat karena ia tidak bisa memberikan perhatian penuh pada bisnis yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.
Akhirnya, Ruthie Berani Memilih Jalan yang Diyakini
Akhirnya, Ruthie Berani Memilih Jalan yang Diyakini. Foto: kumparan/Jamal Ramadhan
Pada 2021, Ruthie akhirnya mulai mempertanyakan satu hal pada dirinya sendiri: mengapa ia tidak pernah benar-benar fokus pada bisnis yang selama ini ia yakini? Setelah berdiskusi dengan orang-orang terdekat dan mempertimbangkan berbagai hal, ia mengambil keputusan besar untuk resign dari pekerjaan kantoran dan fokus menjalankan DARE Image Consultant secara penuh waktu.
Keputusan tersebut tentu tidak mudah. Ada rasa takut akan ketidakpastian yang harus dihadapi. Namun, Ruthie merasa sudah saatnya memberikan ruang yang lebih besar untuk bisnis yang selama ini terus ia perjuangkan. Ruthie pun mantap dengan keputusannya, dia layangkan surat pengunduran diri. Lalu layaknya seorang manajer korporasi, Ruthie dapat 3 month notice sebelum resmi undur diri.
Di bulan pertama dalam masa itu, rasa cemas masih sering datang. Ia mengaku berkali-kali mempertanyakan keputusannya karena harus meninggalkan kenyamanan dengan gaji tetap.
Memasuki bulan kedua, kekhawatiran itu perlahan mereda. Ia mulai menyusun berbagai strategi dan menuangkan ide-ide untuk mengembangkan DARE Image Consultant. Hingga di bulan terakhirnya kerja kantoran, rasa takut berubah menjadi antusiasme yang begitu besar. Berbekal dukungan dari keluarga, partner, teman, hingga atasannya di pekerjaan sebelumnya, Ruthie merasa semakin mantap dan tak sabar memulai perjalanan barunya.
“Finally, aku beneran bisa punya waktu buat DARE Image,” kata Ruthie.
Ketika Pekerjaan Ruthie Tak Hanya Styling Pakaian, tapi Mengubah Hidup Seseorang
Ketika Pekerjaan Ruthie Tak Hanya Styling Pakaian, tapi Mengubah Hidup Seseorang. Foto: kumparan/Jamal Ramadhan
Bagi Ruthie, pekerjaannya sebagai image consultant bukan hanya membuat seseorang tampil lebih menarik. Ia percaya, ketika seseorang tersebut mulai mengenal dirinya dan nyaman dengan penampilannya, perubahan itu akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan.
Hal itu ia temukan langsung dari para kliennya. Salah satunya adalah seorang perempuan yang selama 12 tahun berjuang memiliki anak. Tak lama setelah akhirnya menjadi ibu, klien tersebut harus kehilangan ibunya. Perubahan fisik dan peran baru membuatnya merasa kehilangan jati diri.
Setelah menjalani proses styling bersama DARE Image Consultant, klien tersebut mengaku kembali bersemangat menjalani hidup. Sebab untuk pertama kalinya, ia bisa melihat dirinya tampil menarik dan percaya diri dengan tubuh yang dimilikinya saat ini.
Perubahan serupa juga Ruthie temui pada klien lain. Ada yang mengaku hubungan rumah tangganya menjadi lebih harmonis, ada pula yang mengalami peningkatan performa di tempat kerja setelah tampil lebih representatif. Klien tersebut bercerita bahwa ia mulai lebih dihargai oleh tim atau klien setelah mulai membangun personal image yang sesuai dengan profesinya.
Dari situ, Ruthie semakin yakin bahwa pekerjaannya bukan sekadar mengubah cara seseorang berpakaian, tapi juga membantu mereka menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
“Aku selalu merasa amazed dengan perjalanan ini. Setiap kali melihat klien-klienku berubah, melihat mereka bertransformasi begitu besar—dari yang awalnya tidak percaya diri menjadi lebih percaya diri, atau menjadi lebih bersemangat menjalani hari-harinya—aku selalu berkata pada diri sendiri, untung waktu itu aku mendengarkan suara hati dan berani resign,” ujar Ruthie.