Apa Itu Helicopter Parenting? Dampaknya Bisa Bikin Anak Kurang Percaya Diri - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Apa Itu Helicopter Parenting? Dampaknya Bisa Bikin Anak Kurang Percaya Diri
Apr 4th 2026, 14:00 by kumparanMOM

Ilustrasi ibu punya anak bayi dan balita. Foto: GOLFX/Shutterstock
Ilustrasi ibu punya anak bayi dan balita. Foto: GOLFX/Shutterstock

Setiap orang tua selalu memiliki keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, tanpa disadari, keinginan melindungi terkadang bisa berubah menjadi sikap terlalu mengontrol atau yang dikenal sebagai helicopter parenting. Ya Moms, dalam pola asuh ini, orang tua cenderung mengambil alih banyak hal yang sebenarnya bisa dipelajari anak sendiri.

Alih-alih membantu, pola asuh ini justru bisa berdampak pada perkembangan mental anak, termasuk menurunnya rasa percaya diri. Anak jadi terbiasa bergantung dan ragu pada kemampuannya sendiri karena jarang diberi kesempatan mencoba.

Apa Itu Helicopter Parenting?

Ilustrasi anak memeluk ibu dan ayah.    Foto: Tom Wang/Shutterstock
Ilustrasi anak memeluk ibu dan ayah. Foto: Tom Wang/Shutterstock

Helicopter parenting adalah pola asuh ketika orang tua terlalu terlibat dan mengontrol kehidupan anak, bahkan dalam hal-hal kecil yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri oleh anak. Tujuannya memang baik, yaitu agar anak terhindar dari kesalahan dan selalu dalam kondisi aman.

Namun, menurut Psikolog Anak dan Remaja, Anastasia Satriyo, M.Psi., Psikolog, pola asuh ini justru bisa berdampak sebaliknya jika dilakukan terus-menerus.

"Tujuannya biar anak aman dan tidak salah, tapi dampaknya anak jadi merasa 'aku belum bisa tanpa ibu'. Pelan-pelan, rasa percaya dirinya ikut berkurang dan rasa cemas mulai menggerogotinya," jelas Anastasia pada kumparanMOM beberapa waktu lalu.

Beberapa contoh helicopter parenting yang sering tidak disadari, antara lain:

  • Memakaikan baju anak karena ingin lebih cepat dan rapi

  • Melarang anak mencoba hal baru karena takut kotor atau salah

  • Langsung membantu saat anak terlihat kesulitan

  • Menentukan pilihan anak, mulai dari pakaian hingga aktivitas

  • Terlalu sering mengoreksi atau mengatur cara anak melakukan sesuatu

Dampaknya pada Anak

Dalam jangka pendek, anak mungkin terlihat lebih "aman" dan terkontrol. Namun, dalam jangka panjang, dampaknya bisa cukup serius, seperti:

  1. Kurang percaya diri karena jarang mencoba sendiri

  2. Selalu bergantung pada orang tua

  3. Takut membuat kesalahan

  4. Mudah cemas saat menghadapi hal baru

  5. Tidak terbiasa menyelesaikan masalah sendiri

Karena itu, penting bagi orang tua untuk mulai memberi ruang bagi anak belajar dari prosesnya. Sesekali "tegaan" bukan berarti tidak peduli, melainkan memberi kesempatan anak tumbuh menjadi lebih mandiri dan percaya diri. Setuju, Moms?

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url