Sejarah Hampers Lebaran: Dulunya Upeti 'Pelicin' di Era Kolonialisme Belanda - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Sejarah Hampers Lebaran: Dulunya Upeti 'Pelicin' di Era Kolonialisme Belanda
Mar 16th 2026, 15:20 by kumparanNEWS

Ilustrasi hampers kue kering untuk Lebaran. Foto: Charisma Maya/Shutterstock
Ilustrasi hampers kue kering untuk Lebaran. Foto: Charisma Maya/Shutterstock

Menjelang hari raya besar, tak terkecuali Lebaran yang saat ini semakin dekat, biasanya banyak orang di Indonesia yang merayakannya dengan saling bertukar bingkisan. Bingkisan ini yang kita kenal dengan nama hampers.

Isinya beragam, ada kue kering, barang pecah belah, alat salat, dan masih banyak lagi. Bentuk bungkusannya juga dibuat semenarik dan secantik mungkin, lengkap dengan kartu ucapan "Selamat Idul Fitri" untuk orang yang menerimanya.

Pemandangan ini sudah menjadi rutinitas masyarakat Indonesia yang semakin memeriahkan suasana Lebaran. Namun, apakah asal-muasal tradisi hampers berbagi di Indonesia ini awalnya ditujukan untuk merayakan hari raya, salah satunya Lebaran?

Sudah Ada Sejak Zaman Kerajaan Hindu-Buddha

Meskipun saat ini hampers identik dengan hari raya keagamaan, salah satunya Lebaran, asal-muasal tradisi pemberian hampers justru bermula karena adanya kepentingan suatu pihak tertentu.

Tim kumparan berkesempatan untuk mewawancarai Moordiati, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (Unair). Kami kemudian bertanya kepadanya terkait sejarah tradisi hampers di Indonesia. Ternyata, berdasarkan penjelasannya, masyarakat kita sudah mengenal tradisi pemberian hampers jauh sebelum zaman kolonial, meskipun saat itu masih belum dikenal dengan sebutan "hampers".

Moordiati, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga. Foto: Dok. Pribadi
Moordiati, dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga. Foto: Dok. Pribadi
Ternyata budaya hampers yang masuk ke Indonesia itu, dalam tanda kutip ya, hampers itu sudah mulai masuk ketika zaman nirleka ya, atau zaman ancient atau zaman kuno ya, ketika peradaban Hindu-Buddha ya," ungkap Moordiati ketika dihubungi kumparan, Minggu (15/3).

Masyarakat pada zaman itu sudah saling bertukar hadiah. Menurut Moordiati, hal tersebut bisa kita lihat dalam catatan prasasti maupun buku "The History of Java" karya Thomas Stamford Raffles. Bentuk hadiahnya masih belum seperti sekarang yang umumnya kue, hadiah saat itu lebih ke barang, seperti emas hingga hewan ternak.

Baru kemudian tradisi tersebut diadopsi pada masa kolonial Belanda. Bedanya, jelas Moordiati, masyarakat masa itu mengenal pemberian "hadiah" ini sebagai upeti atau pajak yang satu arah, yaitu dari penguasa pribumi ke pemerintah kolonial. Upeti ini terkadang juga bisa lebih menjurus ke arah gratifikasi atau pelicin karena adanya makna terselubung di baliknya.

Suasana di sebuah pabrik kulit di Batavia, Hindia Timur Belanda, sekarang Jakarta, Indonesia sekitar tahun 1920. Foto: Hulton Archive/Getty Images
Suasana di sebuah pabrik kulit di Batavia, Hindia Timur Belanda, sekarang Jakarta, Indonesia sekitar tahun 1920. Foto: Hulton Archive/Getty Images

"Jadi mereka [masyarakat pribumi] yang punya utang atau balas budi, terutama penguasa-penguasa pribumi itu memberikan hadiah atau semacam istilahnya ya dalam tanda kutip gratifikasi ya [ke pemerintah kolonial], artinya supaya mereka [penguasa pribumi] tidak dicopot atau ada kedekatan emosional sehingga memberikan kiriman-kiriman begitu ya," terang Moordiati.

Akan tetapi, menurut Moordiati, tidak menutup kemungkinan penguasa kolonial juga turut memberikan hadiah kepada penguasa pribumi. Hadiah atau "hampers" ini diberikan karena adanya kepentingan pribadi, seperti ingin membuka lahan baru di wilayah penguasa pribumi atau menginginkan sesuatu dari wilayah tersebut. Menurutnya, pemberian hadiah ini dianggap sebagai strategi pemerintah kolonial untuk mendapatkan simpati dan empati penguasa pribumi.

Bentuk hadiah yang diberikan oleh penguasa pribumi beragam, mulai dari produk hasil tanaman hingga hewan ternak. Sedangkan, hadiah dari pejabat kolonial lebih sederhana, seperti cokelat hingga perhiasan untuk para istri penguasa Pribumi.

Beralih ke masa pendudukan Jepang, Moordiati menerangkan bahwa tradisi pemberian hadiah atau hampers ini tidak begitu kentara seperti masa-masa sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh alasan ekonomi serta situasi politik yang tidak mendukung untuk melakukan pengiriman hadiah.

Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno. Foto: Dok. Kemendikbud
Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno. Foto: Dok. Kemendikbud

Selain itu, tambah Moordiati, masa pendudukan Jepang adalah masa tersulit untuk mendapatkan barang, kecuali di pasar gelap yang itupun hanya digunakan sebagai kebutuhan sehari-hari. Namun, beberapa pejabat dari pihak Jepang juga melanjutkan tradisi hampers ini untuk pemerintah Indonesia.

"Hanya beberapa yang dilakukan oleh penguasa Jepang kepada penguasa Indonesia, Republik Indonesia, tetapi itu pun dalam konteks, apa namanya, sepersahabatan ya, bukan ada indikasi untuk kepentingan tertentu," ungkap Moordiati.

Tradisinya Terus Berkembang hingga Masa Kemerdekaan

Tradisi hampers ini terus berkembang hingga masa pascakemerdekaan Indonesia. Sama seperti masa pendudukan Jepang, menurut Moordiati, tradisi hampers juga masih belum banyak dikenal oleh masyarakat pada masa kepemimpinan Soekarno atau zaman Orde Lama. Kondisi ekonomi masyarakat Indonesia pascakemerdekaan banyak yang masih belum mampu, sehingga sulit untuk saling memberikan hampers.

"Karena kan kita [bangsa Indonesia] masih [dalam] masa transisi kemerdekaan dengan pascakemerdekaan ya. Jadi kita ekonomi belum stabil dan sebagainya," jelas Moordiati.

Ilustrasi hampers Lebaran beraneka macam. Foto: Charisma Maya/Shutterstock
Ilustrasi hampers Lebaran beraneka macam. Foto: Charisma Maya/Shutterstock

Menariknya, menurut Moordiati, ada alasan selain faktor ekonomi yang menyebabkan tradisi hampers di masa Orde Lama masih belum banyak dikenal. Pada masa tersebut, Sukarno membatasi hal-hal yang berkaitan dengan budaya Barat, salah satunya hampers. Oleh karena itulah, hampers yang dianggap sebagai representasi budaya barat hampir sama sekali tidak ditemukan pada masa Orde Lama.

Menurut Moordiati, budaya hampers mulai dikenal masyarakat Indonesia di masa Orde Baru. Umumnya, kata dia, pada masa itu isi hampers lebih banyak makanan yang kemudian mulai berkembang ragamnya, seperti piring, gelas, dan masih banyak lagi.

Barulah di tahun 2000-an, menurut Moordiati, istilah "hampers" mulai umum digunakan di masyarakat. Kata "hampers" merupakan serapan dari bahasa Inggris yang berarti keranjang hadiah. Sebelumnya, hampers dikenal dengan nama "parsel". Meskipun berasal dari asal-usul yang sama, keduanya memiliki bentuk yang berbeda.

"Kalau parsel itu kan sesuatu sesuatu barang (berjumlah) banyak dalam kemudian dijadikan satu menjadi sesuatu yang besar. Tetapi, kalau hampers itu kan hadiah ya, hadiah spesial istimewa yang diberikan kepada orang yang istimewa, cuma bentuknya lebih elegan lebih simpel," terang Moordiati.

Penulis: Safina Azzahra Rona Imani

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url