Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa, saat ditemui di Gedung Parlemen, Jakarta, Rabu (11/2/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis kinerja pasar saham Indonesia masih berpeluang menguat hingga akhir 2026. Ia menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menembus level 10.000, seiring prospek ekonomi domestik yang dinilai masih kuat.
Pada akhir perdagangan Senin (16/3), IHSG ditutup anjlok 1,61 persen atau 114,924 poin ke 7.022,288. Menurut Purbaya, saat ini masih terlalu dini untuk menilai arah pergerakan pasar saham secara keseluruhan.
"Baru bulan apa sekarang? Bulan Maret. Data triwulan pertama belum keluar, triwulan kedua belum keluar. Jadi biar ekonomi ke sana, pasti naik ke atas. Jadi gak usah takut teman-teman, asal jangan beli saham gorengan, itu aja," kata Purbaya kepada wartawan di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (16/3).
Purbaya menegaskan dengan kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid, optimisme terhadap pasar saham masih terbuka. Ia menilai target IHSG di level 10.000 masih realistis untuk dicapai hingga akhir tahun.
"To the moon tetap. 10.000 masih bisa di akhir tahun. Bisa, karena emang ekonomi memang baik. Kita agar ekonomi kita akan berbeda dengan negara-negara tetangga kita," ungkap Purbaya.
"Kita udah nomor 1 di G20. Lu masih nggak percaya juga? Apalagi dengan modal yang sama, dengan ekonomi fiskal yang terkendali, kita bisa ciptakan pertumbuhan yang lebih cepat. Itu udah jago banget," tambahnya.
Dengan keyakinan tersebut, ia juga memberi sinyal bahwa kondisi pasar saat ini bisa dimanfaatkan investor untuk mulai mengoleksi saham, dengan catatan tetap memilih emiten yang berkualitas.
"Kalau saya bilang iya. Jadi beli saham yang bagus buat serok-serok," tutur Purbaya.
Selain itu, Purbaya menilai pengalaman Indonesia menghadapi berbagai siklus ekonomi, termasuk saat harga minyak tinggi di masa lalu, menjadi modal penting bagi perekonomian untuk tetap bertahan menghadapi gejolak global.
Sementara, terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp 17.000 per dolar AS, Purbaya menegaskan hal tersebut bukan berada dalam kewenangannya. Ia menyebut stabilitas nilai tukar merupakan tanggung jawab Bank Indonesia.
"Saya gak tahu itu kenapa sama lemah. Anda harus tanyakan ke Bank Sentral kalau rupiah. Anda tanya yang betul ke Bank Sentral apa yang terjadi," ujar Purbaya.
"Kalau ekonominya lagi lari, lagi lari kenceng, makin kenceng, harusnya fundamentalnya baik. Kalau nggak seperti normal, rupiah harusnya menguat," tambahnya.