Memahami Bystander Effect, Alasan Orang Diam saat Lihat Pelecehan di Keramaian - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Memahami Bystander Effect, Alasan Orang Diam saat Lihat Pelecehan di Keramaian
Mar 26th 2026, 11:30 by kumparanWOMAN

Ilustrasi para pengguna KRL di Jakarta. Foto: Shutterstock
Ilustrasi para pengguna KRL di Jakarta. Foto: Shutterstock

Istilah bystander effect mungkin masih belum dikenal luas oleh masyarakat. Namun tanpa disadari, sikap ini kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika seseorang memilih diam saat melihat korban kecelakaan, pelecehan, atau tindakan tidak pantas di ruang publik.

Salah satu contoh nyata fenomena ini dialami oleh seorang perempuan bernama Wanodya Renjana. Ia mengalami pelecehan seksual saat menaiki Kereta Rel Listrik (KRL) pada awal Maret lalu dan mendapat respons minim walaupun banyak orang di sekitarnya.

Saat kejadian ia berusaha menegur pelaku dengan suara keras sekaligus meminta pertolongan kepada orang yang berada di sekitarnya. Namun pertolongan yang didapat tidak sesuai harapan. Meski kondisi KRL dipadati penumpang, hanya segelintir orang yang merespons, itupun dengan tindakan yang minim. Inilah yang disebut sebagai 'bystander effect'.

Memahami bystander effect

Dikutip dari Verywell Mind, bystander effect merupakan fenomena ketika semakin banyak orang yang berada di suatu lingkungan, semakin kecil kemungkinan mereka membantu orang yang sedang kesulitan.

Dengan kata lain, saat seseorang berada di situasi ramai dan melihat hal yang janggal, tanpa disadari rasa tanggung jawab untuk menolong menjadi berkurang. Hal ini berkaitan dengan respons psikologis otak dan tubuh seseorang saat berada di situasi ramai.

Mengapa bystander effect dapat terjadi?

Ilustrasi pelecehan seksual.  Foto: Fatah Afrial/kumparan
Ilustrasi pelecehan seksual. Foto: Fatah Afrial/kumparan

Alvieni Angelica, M.Psi., Psikolog, seorang psikolog klinis dewasa di Enlightmind mengatakan bahwa bystander effect ini punya dua faktor di dalamnya: Difusi tanggung jawab dan pengabaian kolektif.

"Difusi tanggung jawab yaitu kondisi ketika situasi ramai membuat alam bawah sadar seseorang untuk bertanggung jawab hanya beberapa persen saja terhadap situasi yang sedang terjadi. Berbeda jika ia adalah saksi tunggal sebuah kejadian, maka tanggung jawab untuk bertindak menjadi 100 persen," jelasnya kepada kumparanWOMAN.

Ia kemudian menjelaskan faktor pengabaian kolektif, yaitu kecenderungan individu untuk melihat reaksi orang lain di sekitarnya. Jika orang-orang di sekitar tampak lebih banyak bermain ponsel atau melihat ke arah lain, otak akan menafsirkan bahwa situasi tersebut bukan keadaan darurat.

"Dari sudut pandang neurosains, apa yang kita lihat mengaktivasi sistem alarm (amygdala) di otak emosi, sehingga kita masuk ke situasi pertahanan diri. (Pada kondisi ini) otot kita justru mengunci karena menilai di dekat kita ada situasi berbahaya. Aktivasi sistem alarm ini juga membuat kebingungan dalam berpikir," tambahnya.

Cara mengatasi bystander effect

Bystander effect merupakan respons alami yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan cara kerja psikologis seseorang. Meski demikian, sikap ini bisa dicegah dengan meningkatkan kesadaran dan edukasi diri. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

1. Melihat orang yang membantu korban

Pada kejadian Wanodya, terdapat segelintir orang yang berani menegur pelaku. Dalam situasi serupa, kamu bisa menjadikan tindakan tersebut sebagai dorongan untuk ikut membantu.

Dikutip dari Verywell Mind, melihat orang lain melakukan kebaikan atau menolong dapat memotivasi kita untuk melakukan hal yang sama.

2. Bersikap observatif

Kamu tidak bisa hanya mengandalkan orang lain saja. Cobalah untuk lebih peka dengan mengamati situasi secara langsung dan menilai apakah kondisi tersebut membutuhkan bantuan. Sikap objektif ini justru bisa memutus rantai bystander effect di sekitar.

3. Pandang korban sebagai seseorang yang pantas mendapat bantuan

Seseorang cenderung membantu orang lain jika ia merasa bahwa orang tersebut layak untuk ditolong. Oleh karena itu, kamu dapat menanamkan pola pikir bahwa siapa pun yang meminta pertolongan di ruang publik adalah pihak yang pantas dibantu, meskipun belum ada orang lain yang merespons terlebih dahulu.

4. Terapkan rasa bersalah

Perasaan bersalah dapat mendorong seseorang untuk menolong korban. Kamu bisa mencoba membayangkan apa yang dirasakan korban dan menyadari bahwa tidak bertindak bisa membuat situasi semakin buruk. Lewat cara ini, kamu akan lebih terdorong untuk membantu sekaligus mengajak orang lain di sekitar untuk ikut bertindak.

5. Bangun hubungan personal

Secara alami, kita cenderung lebih cepat menolong orang yang dikenal secara personal, seperti keluarga atau teman. Nah, kamu dapat menganggap korban adalah salah satu dari mereka, sehingga terbesit rasa untuk menolong.

Kamu juga bisa membangun koneksi sederhana, misalnya dengan menanyakan kondisi korban agar terbangun rasa personal yang dapat membantu korban.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url