Velvet Cafe di kawasan Balat, Istanbul Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Araoma masakan rumahan khas Turki menyambut setiap pengunjung yang datang ke Grandma's Velvet Cafe di Distrik Balat, Istanbul. Dengan senyum ramah, pemilik kafe, Yuskel Kukul, dan partnernya Begum Kocer menyambut kedatangan kumparan pagi itu.
Keduanya tampak bersiap mengatur meja makan untuk kami berdelapan yang sudah tidak sabar mencicipi aneka hidangan Turki yang akan disajikan.
Sembari menunggu mereka menyiapkan segala sesuatunya, kumparan pun disajikan roti gandum dengan mentega atau keju sebagai hidangan pembuka.
Menurut Aret, guide yang menemani perjalanan kumparan dalam acara fam trip AirAsia X dan Tourism Turkiye (GoTurkiye), orang Turki terbiasa memberikan makanan pembuka atau starter sembari menunggu hidangan utama disajikan.
"Kami suka menikmati camilan sambil menunggu hidangan utama disajikan, orang Turki tidak terbiasa menunggu dengan kondisi perut tidak terisi makanan," katanya.
Manajer Velvet Cafe Balat, Yuksel Kukul, kafe yang menyediakan menu sarapan tradisional khas Turki Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Selepas Aret berbicara, giliran Yuksel yang bercerita kepada kumparan tentang kafe yang ia kelola. Kata dia, kafe ini adalah bisnis keluarganya yang telah berdiri sejak delapan tahun silam.
Sang nenek menjadi alasan kenapa ia bersama ibu dan bibinya membangun bisnis kafe ini bersama-sama. Yuksel mengatakan, akar dari keluarga neneknya berasal dari Sudan, Afrika Utara.
"Ini adalah bisnis keluarga kami yang kami buat untuk mengenang nenek saya. Kami memiliki ikatan yang sangat baik di antara anggota keluarga kami, dan ini juga merupakan akar dari mana cerita kami berasal,"ujar Yuksel kepada kumparan di Turki belum lama ini.
Diorama nenek pemilik Velfet Cafe Balat. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Bagi Yuksel dan keluarga, memasak bukanlah hal yang asing. Sejak dulu, kakek buyut dan neneknya sudah mengelola tempat makan sendiri. Bisnis ini kemudian dilanjutkan oleh cucu-cucunya, termasuk Yuskel hingga saat ini.
Tak lama setelah mendengar cerita Yuksel, perlahan satu persatu makanan khas Turki disajikan di meja makan. Bergum dan Yuksel, bergantian membawakan berbagai makanan mulai dari keju, roti gandum, salad sayuran, telur dadar, irisan daging.
Tak lupa juga, aneka bumbu serta saus tradisional yang menjadi santapan khas Turki juga disajikan di atas meja.
Sembari menyajikan hidangan-hidangan itu di atas meja, Yuskel menjelaskan bagaimana seluruh makanan itu dibuat langsung dan berdasarkan resep turun-temurun.
Pengalaman Menikmati Hidangan Khas Turki
Sarapan tradisional khas Turki di Velfet Cafe Balat. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Roti yang dihidangkan berpadu dengan nyaman di lidah bersama dengan condiment yang diberikan. Terkadang rasa asam dan asin dari hummus bersatu padu, ada juga rasa sedikit pedas jika dimakan bersama scrambled egg dan potongan sucuk atau sosis pedas khas Turki.
Tak hanya itu, aneka sajian tersebut juga terasa sangat unik jika didpadukan dengan ragam bumbu dan saus khas Turki sebagai pelengkap hidangan.
Beberapa pilihan sausnya seperti saus tahini, pasta wijen lembut, biasanya dipadukan dengan madu, saus seperti potongan buah nanas yang rasanya asam, asin dan segar hingga ragam bumbu dan saus lainnya.
Sarapan tradisional khas Turki di Velfet Cafe Balat. Foto: Gitario Vista Inasis/kumparan
Sensasinya bukan hanya sekadar makan, tapi ada sejuta rasa dari perpaduan hidangan utama dengan aneka bumbu dan saus tersebut. Selain terasa lezat, hidangan khas Turki ini dari bahan alami dan segar.
Setelah menyantap hidangan, Begum memberikan secangkir kopi Turki dan juga manisan atau Turkish delight, sebagai penutup santapan pagi itu.
Menurut Aret, menu sarapan ini mengingatkannya pada makanan yang biasa ia santap bersama keluarga besarnya dulu. Ia mengatakan, saat ini keluarga modern Turki sudah cukup jarang mengadakan santap sarapan atau brunch bersama, entah karena kesibukan atau generasi baru yang belum sempat mempelajari resep dari sang tetua.
Ketika tiba di Balat, kesan pertama yang muncul adalah keunikan arsitektur rumah-rumah kayu di kawasan ini.
Di tengah maraknya bangunan bertingkat di Istanbul, Balat menawarkan suasana berbeda, dengan gang-gang sempit dan rumah-rumah yang konon telah berusia ratusan tahun. Keunikan Balat tidak hanya terletak pada arsitekturnya.
Di sini juga terdapat bangunan-bangunan bersejarah seperti masjid, sinagoge, hingga bangunan yang menjadi sekolahan anak-anak pemeluk agama kristen ortodoks. Balat juga penuh dengan toko barang bekas yang unik, pedagang barang antik, dan juru lelang.