Mengapa AI Tidak Bisa Menggantikan Peran Guru dalam Pendidikan? - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Mengapa AI Tidak Bisa Menggantikan Peran Guru dalam Pendidikan?
Feb 20th 2026, 22:00 by Handi Wahyu Purnomo

Guru menanamkan adab sopan santun kepada siswa di kelas, menegaskan peran keteladanan manusia yang tidak dapat digantikan oleh AI. Foto: Generated by AI
Guru menanamkan adab sopan santun kepada siswa di kelas, menegaskan peran keteladanan manusia yang tidak dapat digantikan oleh AI. Foto: Generated by AI

Di sebuah ruang kelas sederhana di Yogyakarta, kursi kayu berderit pelan, cahaya masuk dari jendela, dan seorang guru veteran bernama Amelita Tarigan berdiri di depan kelas dengan selembar instruksi ringan. Ia meminta murid-muridnya untuk menulis pantun. Tidak ada tekanan, tidak ada tenggat yang menyesakkan waktu. Namun yang terjadi justru mencengangkan. Dalam hitungan detik, layar gawai menyala, jari-jari bergerak cepat, dan pantun dengan rima a-b-a-b tersaji rapi tanpa cela.

Masalahnya baru muncul ketika Amelita bertanya pelan kepada mereka satu per satu, tentang makna di balik bait-bait itu. Kelas mendadak menolak suara. Tidak ada yang berani menatap matanya. Pantun selesai, tetapi pengertian tidak pernah lahir. Di situlah ironi pendidikan modern berdiri telanjang. Anak-anak mampu memproduksi jawaban, tetapi gagal memahami isi. Kita tidak sedang melahirkan pemikir, melainkan operator palsu.

Fenomena ini bukan anekdot tunggal. Data Jack Brazel menunjukkan bahwa 95 persen penggunaan kecerdasan buatan di dunia pendidikan terindikasi bersinggungan dengan pelanggaran integritas akademik. Kita semua sedang berdiri di persimpangan sejarah. Jika pendidikan hanya dipahami sebagai pemindahan informasi, maka kehadiran guru memang tampak usang. Namun jika pendidikan adalah pemindahan adab, akhlak dan moral, maka kepercayaan buta pada algoritma layak dipertanyakan ulang.

Keterbatasan AI dalam Pendidikan Karakter dan Pembentukan Manusia

Ilustrasi kecerdasan buatan yang mampu mengolah data dan kesadaran semu. Foto: Generated by AI
Ilustrasi kecerdasan buatan yang mampu mengolah data dan kesadaran semu. Foto: Generated by AI

Kekeliruan terbesar zaman ini adalah menyamakan adab dengan data. Seolah dengan memasukkan ribuan buku etika ke dalam mesin, kita bisa melahirkan moralitas sintetis. Padahal adab bukan kumpulan kalimat. Ia adalah cara hidup. Dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara, pendidikan dibedakan secara tegas dari pengajaran. Pengajaran memindahkan ilmu, sementara pendidikan membentuk manusia. Adab, bagi beliau, adalah jalan menuju kesempurnaan hidup.

Mesin tidak hidup. Ia tidak tumbuh bersama luka, tidak belajar dari rasa bersalah, dan tidak memahami kehilangan. Tanpa pengalaman hidup, konsep kesempurnaan hanya menjadi statistik. Maka ketika kecerdasan buatan diposisikan sebagai pengganti guru, yang hilang bukan sekadar figur, melainkan dimensi kemanusiaan itu sendiri.

Di ruang kelas modern, integrasi AI sering melahirkan apa yang bisa disebut sebagai halusinasi kompetensi. Murid merasa mampu karena hasil instan tersedia, padahal proses berpikirnya kosong. Riset dalam Scholaria Journal mencatat bagaimana kepuasan cepat ini menggantikan penderitaan berpikir yang justru sangat penting untuk menumbuhkan ketekunan dan kedewasaan intelektual.

Secara filosofis, kegagalan mesin dalam mengajarkan adab dapat dijelaskan melalui konsep tacit knowledge. Ada jenis pengetahuan yang tidak bisa dituliskan, hanya bisa diwariskan lewat kehadiran. Pada dasarnya, adab hidup dalam sorot mata guru yang tenang, dalam jeda sebelum menegur, dalam keteladanan yang konsisten. Mesin hanya mengenal explicit knowledge, teks, kode, dan perintah. Ketika adab dipaksa masuk ke logika mesin, yang tersisa hanyalah tiruan tanpa jiwa.

Dari sisi psikologis, bahaya lain mengintai. Sherry Turkle memperingatkan tentang ilusi empati buatan. Ketika sekolah menggunakan AI sebagai teman bicara atau konselor, anak-anak terjebak dalam relasi as if. Mesin merespons seolah peduli, padahal tidak pernah merasakan apa pun dan sedikit pun. Empati sejati lahir dari kerentanan bersama. Guru bisa memahami kesedihan murid karena ia juga manusia yang pernah jatuh dan bangkit. Mesin tidak pernah terluka, mesin tidak mengenal rasa, maka kepeduliannya hanyalah simulasi.

Neil Postman pernah mengingatkan bahwa sekolah tanpa narasi transenden akan berubah menjadi ruang penahanan. Jika peran moral guru diserahkan pada mesin, sekolah perlahan menjelma pabrik data. Prinsip Ing Ngarsa Sung Tulada dari Ki Hajar Dewantara menuntut teladan nyata. Teladan mensyaratkan pergulatan batin. Kesabaran mesin bukan kebajikan, melainkan ketiadaan pilihan.

Peran Guru sebagai Jangkar Moral di Tengah Dominasi Algoritma

Pada akhirnya, kita harus berani menarik garis batas. Ada wilayah di mana silikon harus berhenti dan jiwa manusia harus melangkah maju. Kecerdasan buatan adalah alat kognitif yang mengagumkan, tetapi ia kosong secara moral. Ia bisa menghitung jarak ke bulan, namun tidak akan pernah mengajarkan mengapa kita harus menolong teman yang terjatuh di halaman sekolah.

Masa depan pendidikan tidak boleh ditentukan oleh efisiensi semata. Guru harus merebut kembali perannya sebagai jangkar moral dan penjaga nurani. Bukan sebagai pengulang informasi, melainkan sebagai manusia yang hadir utuh. Kita tidak membutuhkan guru robot yang sempurna. Justru dari kelelahan, ketidaksempurnaan, dan kejujuran manusialah anak-anak belajar arti menjadi manusia.

Tanpa kehadiran fisik dan batin sang guru, sekolah hanyalah bangunan sunyi yang dipenuhi cahaya layar dingin. Dan di sanalah, diam-diam, adab bisa benar-benar mati.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url