Ayam cemani di desa-desa Jawa, namanya bergaung sebagai hewan sakral. Di pasar global, ia dikenal sebagai ayam eksotik bernilai tinggi. Foto: ChatGPT
Ayam cemani sering hadir bersama cerita mistis. Ia bukan sekadar unggas, melainkan juga simbol, mitos, dan identitas budaya. Tubuhnya hitam legam, dari bulu hingga tulang, seolah lahir dari dongeng. Di desa-desa Jawa, namanya bergaung sebagai hewan sakral. Di pasar global, ia dikenal sebagai ayam eksotik bernilai tinggi.
Di tengah kabut mistik itu, sains perlahan membuka tabir. Genetika, biologi, dan penelitian modern memberi penjelasan rasional. Ayam cemani bukan makhluk gaib, melainkan hasil evolusi genetik yang unik. Namun, narasi budaya tetap hidup, membentuk cara manusia memandangnya.
Dr. Savitri Novelina dari IPB University menjelaskan fenomena ini secara terang. Ia menyebut fibromelanosis sebagai penyebab utama warna hitam total. Mutasi genetik membuat melanin menyebar ke seluruh jaringan tubuh. Pernyataan ini sejalan dengan riset Dorshorst, Larson, dan kolega dalam The Endothelin 3 Gene and Dermal Hyperpigmentation in Chickens (2011).
Namun, ayam cemani tidak hanya hidup di laboratorium dan jurnal ilmiah. Ia hidup di pasar tradisional, ritual adat, dan cerita rakyat. Ia juga hidup di media global, dari Florida hingga Eropa. Inilah pertemuan sains, budaya, dan ekonomi dalam satu tubuh unggas.
Dari Kedu ke Dunia: Asal-Usul dan Identitas Ayam Cemani
Ayam cemani berasal dari Jawa Tengah, tepatnya wilayah Kedu, Temanggung. Secara ilmiah, ia diklasifikasikan sebagai Gallus gallus domesticus. Ia termasuk rumpun ayam kedu, bersama kedu hitam, kedu putih, dan kedu blorok. Nama cemani berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti hitam legam.
Seluruh tubuhnya hitam. Bulu, kulit, mata, lidah, pial, hingga kloaka berwarna gelap. Bahkan tulang dan dagingnya kehitaman. Foto: ChatGPT
Secara lokal, ayam ini juga disebut ayam kedu cemani. Ia telah dipelihara masyarakat sejak lama. Catatan Sudradjad—dalam Ayam Lokal Indonesia (2004)—menyebut dua versi sejarah. Versi Makukuhan mengaitkannya dengan Ki Ageng Makukuhan. Versi Tjokromiharjo menghubungkannya dengan modernisasi peternakan awal abad ke-20.
Dalam tradisi Jawa, ayam cemani hadir dalam ritual adat. Ia digunakan dalam ruwatan, sesaji, dan upacara tolak bala. Rozi—dalam—"Totemisme Ayam Cemani di Lereng Sumbing-Sindoro" (2017)—mencatat peran simboliknya. Ia bukan sekadar hewan, melainkan juga representasi kekuatan kosmis.
Namun, secara biologis, ia tetap ayam domestik. Ia hidup di kandang, mencari makan di tanah, dan berkembang biak seperti unggas lain. Ia makan biji-bijian, serangga, rumput, buah, dan kerikil kecil. Kerikil membantu pencernaan di tembolok.
Secara fisik, tubuhnya kecil hingga sedang. Berat jantan sekitar 2 hingga 2,5 kilogram. Betina berkisar 1,5 hingga 2 kilogram. Kakinya hitam, kuat, dan bersisik gelap. Lehernya ramping, paruhnya hitam, dan jenggernya gelap pekat.
Seluruh tubuhnya hitam. Bulu, kulit, mata, lidah, pial, hingga kloaka berwarna gelap. Bahkan, tulang dan dagingnya kehitaman. Namun, darahnya tetap merah karena hemoglobin. Warna darah hanya tampak lebih gelap secara visual.
Telurnya tidak hitam. Warnanya krem hingga putih pucat. Berat telur rata-rata 40 hingga 45 gram. Betina mulai bertelur pada usia sekitar 5 hingga 6 bulan. Masa produksi stabil setelah usia 7 bulan.
Ayam cemani bukan penerbang ulung. Ia hanya mampu terbang rendah dan pendek. Ia lebih aktif berjalan dan berlari. Ia lincah, waspada, dan adaptif terhadap lingkungan tropis.
Hitam yang Ilmiah: Genetika, Penelitian, dan Fakta Biologis
Warna hitam ayam cemani bukan mitos. Ia adalah hasil mutasi genetik. Penelitian Ben Dorshorst dkk. (2011) membuktikan duplikasi gen EDN3. Gen ini mengatur produksi melanosit. Akibatnya, melanin diproduksi berlebihan.
Fenomena ini disebut fibromelanosis. Pigmen menyebar ke kulit, otot, dan organ dalam. Inilah sebab tubuhnya hitam total. Fenomena serupa ditemukan pada ayam silkie dari Tiongkok, juga pada ayam black H'mong dari Vietnam.
Dr. Savitri Novelina—dalam wawancara IPB University—menegaskan hal ini. Ia menyebut ayam cemani sebagai produk genetika, bukan supranatural. Ia juga mengingatkan soal kesejahteraan hewan. Perlakuan tidak etis justru meningkatkan risiko zoonosis.
Penelitian Jannah dkk.—dalam "Isolasi BAL dari Saluran Pencernaan Ayam Cemani" (2014)—menemukan potensi probiotik. Bakteri asam laktat dari usus ayam cemani berpotensi untuk kesehatan unggas. Ini membuka peluang riset lanjutan di bidang peternakan.
Dari sisi reproduksi, ayam cemani bertelur 10 hingga 15 butir per siklus. Masa mengeram sekitar 21 hari. Anak ayam mandiri pada usia 2 hingga 3 bulan. Umur hidupnya bisa mencapai 6 hingga 8 tahun.
Ia tidak tergolong satwa liar. Status konservasinya domestik, bukan terancam punah. Namun, populasinya terbatas karena seleksi genetik ketat. Tantangan utamanya adalah inbreeding dan pemalsuan genetik.
Secara ekonomi, nilainya tinggi. Di pasar internasional, harganya bisa mencapai ribuan dolar. Business Insider menulis laporan peternakan Florida menjualnya hingga 2.500 dolar per ekor. Di Indonesia, harga telur, anakan, hingga indukan sangat bervariasi.
Ia kini dikembangkan sebagai ayam hias, ayam koleksi, dan ayam konsumsi. Dagingnya dikaji kandungan Fe yang tinggi. Beberapa penelitian mengaitkannya dengan potensi gizi. Namun, klaim medis tetap memerlukan riset lanjutan.
Warisan Hayati, Etika Budaya, dan Tantangan Keberlanjutan
Mitos ayam cemani hidup karena simbol. Warna hitam selalu dikaitkan dengan misteri. Dalam budaya Jawa, hitam adalah simbol kekuatan, kedalaman, dan kesunyian. Maka dari itu, ayam cemani menjadi medium makna.
Ia adalah identitas biodiversitas Nusantara. Di era global, ia menjadi simbol soft power hayati Indonesia. Foto: ChatGPT
Namun, mitos sering menutup logika. Ayam cemani dijadikan media santet. Ia dipakai dalam ritual ekstrem. Dr. Savitri mengingatkan risiko etika dan kesehatan. Praktik ini melanggar kesejahteraan hewan.
Namun, budaya tidak bisa dipatahkan dengan sains kaku. Pendekatan empatik lebih efektif. Edukasi berbasis dialog lebih diterima. Inilah jembatan antara ilmu dan kepercayaan.
Di sisi lain, ayam cemani adalah aset genetik Indonesia. Ia adalah plasma nutfah lokal. Ia adalah identitas biodiversitas Nusantara. Di era global, ia menjadi simbol soft power hayati Indonesia.
Tantangan ke depan adalah konservasi berbasis sains. Pemuliaan genetik harus etis. Inbreeding harus dikontrol. Standar kesejahteraan hewan harus ditegakkan.
Ayam cemani bukan sekadar hitam. Ia adalah narasi panjang tentang manusia, alam, dan makna. Ia mengajarkan bahwa mitos dan sains bisa berdampingan. Selama manusia mau berpikir jernih dan merawat dengan etis.
Di sanalah ayam cemani menemukan tempatnya. Bukan sebagai makhluk gaib, melainkan sebagai warisan hayati, budaya, dan ilmu pengetahuan Indonesia.