Ilustrasi aluminium milik PT Inalum. Foto: Dok. Inalum
Indonesia memiliki ambisi besar mencapai swasembada aluminium, seiring dengan berlanjutnya agenda pengembangan industri hilirisasi mineral. Melalui strategi Holding BUMN Pertambangan MIND ID, rasanya cita-cita itu tidak mustahil tercapai.
Modal kuat Indonesia dalam industri aluminium dimulai dari ekosistem hulu. Berdasarkan data Badan Geologi Kementerian ESDM, sumber daya bijih bauksit pada tahun 2024 mencapai 7,79 miliar ton, dengan total cadangan bijih bauksit sebesar 2,86 miliar ton. Cadangan bijih bauksit sebagian besar terdapat di Provinsi Kalimantan Barat, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Tengah.
Sepanjang Januari hingga Desember 2024, Kementerian ESDM mencatat produksi bijih bauksit di Indonesia mencapai 8,362 juta ton dari sekitar 78 izin pertambangan.
PT Antam (Persero) termasuk salah satu perusahaan pertambangan bauksit dengan kapasitas produksi terbesar di Indonesia. Sumber daya bauksit konsolidasi perusahaan pada tahun 2024 tercatat sebesar 552,80 juta wet metrik ton (wmt), dengan total cadangan bauksit tercatat sebesar 198,43 juta wmt.
Sementara itu, Kementerian ESDM juga mencatat sumber daya alumina (Al₂O₃) di Indonesia mencapai 1,32 miliar ton, dengan cadangan sebesar 552 juta ton. Alumina merupakan bahan baku untuk menghasilkan logam aluminium murni.
Untuk menghasilkan aluminium, dibutuhkan pembangunan fasilitas pemurnian atau smelter. Dalam industri tersebut, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menjadi tulang punggung dengan target yang tidak kecil. Perusahaan mempersiapkan peningkatan kapasitas produksi aluminium nasional hingga 900.000 ton per tahun pada 2029.
Industri midstream ini didukung oleh Danantara Indonesia yang baru saja meresmikan groundbreaking proyek hilirisasi fase I, Jumat (6/2). Dari total 6 proyek yang dimulai, dua proyek merupakan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit-alumina-aluminium terintegrasi yang digawangi Inalum dan Antam, dengan total nilai investasi USD 6,23 miliar atau setara Rp 104,5 triliun.
Groundbreaking Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat. Foto: Dok. Bukit Asam
Fasilitas ini terdiri dari Smelter Aluminium Baru dengan kapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
Selain itu, proyek ini juga mencakup pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tangga sebesar 317 MW dan Sigura-gura 286 MW di Sumatera Utara, serta penyediaan pasokan listrik dari PT Bukit Asam (PTBA) berkapasitas 1.250 MW di Kalimantan Barat.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengatakan melalui hadirnya proyek ini dapat meningkatkan kemampuan produksi aluminium dari dalam negeri serta menunjukkan bahwa Indonesia semakin mampu mengurangi ketergantungan impor aluminium.
"Tanpa adanya hilirisasi aluminium, Indonesia akan terus berada pada posisi sebagai pasar, bukan sebagai produsen. Melalui program hilirisasi ini, kita memastikan bahwa bauksit yang ditambang di dalam negeri, khususnya yang ada di Provinsi Kalimantan Barat ini, diproses, kemudian dimurnikan, dan diubah menjadi produk bernilai tinggi di Indonesia," kata Maroef saat seremoni groundbreaking proyek hilirisasi fase I.
Saat ini, kata Maroef, Inalum mengoperasikan smelter aluminium di Kuala Tanjung dengan kapasitas produksi sebesar 275 ribu ton per tahun. Dengan penambahan smelter aluminium kedua, kapasitas ini akan meningkat hingga 900 ribu ton per tahun, yang seluruh produksinya diprioritaskan untuk kebutuhan aluminium domestik.
Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah. Foto: Dok. MIND ID
Pengembangan industri aluminium terpadu ini diperkuat dengan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II oleh Inalum dan Antam melalui PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), di lokasi yang sama dengan fasilitas fase I, dengan kapasitas produksi alumina 1 juta ton per tahun.
Dengan begitu, total kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun dengan penyerapan bijih bauksit sebesar 6 juta ton per tahun yang dipasok dari seluruh area Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dikuasai oleh PT Antam di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak.
Ciptakan Nilai Tambah dan Lapangan Pekerjaan
Melalui proyek strategis nasional ini, MIND ID mendorong peningkatan nilai tambah hingga 70 kali lipat, dari bauksit menjadi alumina dan aluminium. Hal ini didasari dari harga bauksit mentah berada di kisaran USD 40 per metrik ton, meningkat menjadi sekitar USD 400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina dan kembali melonjak hinga sekitar USD 2.800-3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.
Ekosistem ini juga menciptakan peningkatan pendapatan negara. Saat smelter aluminium baru beroperasi, cadangan devisa diperkirakan naik 394 persen dari Rp 11 triliun menjadi Rp 52 triliun per tahun. Para pelaku industri manufaktur juga akan mendapat kepastian bahan baku dari dalam negeri.
Tidak hanya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, proyek pengolahan dan pemurnian bauksit ini juga memperluas serapan tenaga kerja, khususnya tenaga kerja formal dan terampil. Anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menilai hilirisasi sumber daya alam mineral berperan strategis dalam mendorong penciptaan lapangan kerja berkualitas di dalam negeri.
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Kamis (5/2/2026). Foto: Abid Raihan/kumparan
"Kami menyambut positif kebijakan hilirisasi karena dampaknya sangat konkret terhadap penciptaan lapangan kerja, terutama tenaga kerja formal yang terampil dan memiliki nilai tambah tinggi," ujar Eddy dalam keterangannya.
Berdasarkan dokumen Pra Feasibility Study (PFS) yang disusun Danantara bersama Satuan Tugas Hilirisasi, proyek strategis ini diproyeksikan dapat menyerap hingga 14.700 tenaga kerja baru, baik pada fase konstruksi maupun operasional. Proyek ini juga ditargetkan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga Rp 71,8 triliun per tahun dan penerimaan negara Rp 6,6 triliun per tahun.
Eddy menyebutkan, urgensi penciptaan lapangan kerja melalui hilirisasi semakin relevan mengingat kebutuhan aluminium nasional yang masih bergantung pada impor. Saat ini, kebutuhan aluminium domestik mencapai sekitar 1,2 juta ton per tahun, dengan sekitar 54 persen masih dipenuhi dari luar negeri.
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa hilirisasi harus terus didorong hingga ke tahap industrialisasi produk turunan dan barang jadi. Dengan demikian, manfaat penciptaan lapangan kerja akan semakin optimal dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Ketika pemrosesan dan industrialisasi dilakukan di dalam negeri, lapangan kerja tercipta, nilai tambah tinggal di Indonesia, dan manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung oleh tenaga kerja dan masyarakat yang lebih luas," jelas Eddy.
Prospek Cerah Industri Hilir Bauksit
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan bahwa pemerintah tengah mendorong hilirisasi bauksit, menyusul kesuksesan hilirisasi nikel. Hal ini seiring dengan kebijakan penghentian ekspor bijih bauksit.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan paparannya pada konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO
"Kita juga harus membangun hilirisasi, dan hilirisasi ini adalah kata kunci untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Bauksit kita industrinya sudah ada dalam negeri, ini terus kita akan dorong," katanya saat Minerba Convex 2025, dikutip Kamis (16/10).
Pada sektor hilir atau downstream, aluminium berperan penting sebagai bahan baku dalam industri otomotif dan produk aluminium ekstrusi. Selain itu, ekosistem hilirisasi bauksit juga diharapkan dapat menghasilkan produk sheet dan flat aluminium, serta menyokong industri pertahanan hingga aviasi.
Berdasarkan catatan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, sejak tahun 2020 hingga kuartal III 2024, realisasi investasi komoditas bauksit mencapai Rp 46,77 triliun dan menyerap 25.998 tenaga kerja. Dalam periode tersebut, Indonesia telah menghasilkan 489.000 ton per tahun aluminium ingot, 159.5000 ton per tahun aluminium slab dan billet, 2.276.000 aluminium ekstrusi, 83,6 juta unit komponen otomotif, 84.700 ton per tahun kemasan makanan, 11,1 juta unit per tahun komponen elektrik, serta 3,282 MW sel dan modul surya.
Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP), Bisman Bakhtiar, mengatakan industri baukit terintegrasi di Indonesia cukup bagus dan prospektif karena didukung komitmen hilirisasi pemerintah dan agenda pembangunan proyek terintegrasi.
"Dengan memiliki cadangan bauksit yang lumayan besar dan pasar aluminium global yang terus tumbuh untuk berbagai industri, Indonesia potensial menjadi pemain besar industri hilirisasi bauksit," katanya saat dihubungi kumparan.
Kendati begitu, Bisman menyoroti pekerjaan besar pemerintah dalam menyediakan pasokan energi yang andal bagi industri pemurnian dan kesiapan industri hilir di dalam negeri untuk menyerap seluruh hasil pengolahan bauksit.
"Yang perlu jadi perhatian pemerintah soal ketersediaan energi yang kompetitif karena industri ini butuh banyak energi listrik, perlu memberikan jaminan kepastian hukum dan regulasi, selain itu, hilirisasi ini perlu diarahkan agar menciptakan multiplier effect dan mengembangkan industri turunan," jelas Bisman.
Keberhasilan hilirisasi tidak hanya bergantung pada kapasitas smelter, tetapi juga kemampuan industri hilir dalam menyerap aluminium domestik. Selain itu, kepastian perizinan pertambangan bauksit yang merupakan kewenangan pemerintah pusat diharapkan dapat menciptakan kepastian hukum bagi investor sehingga tidak menghambat percepatan hilirisasi.
Jika seluruh modal dan strategi hilirisasi bauksit ini bergerak secara harmonis, mungkin tidak lama lagi Indonesia lepas dari ketergantungan impor sehingga dapat menyandang gelar swasembada aluminium.