Pohon Sosis (Kigelia Africana): Si Unik dari Afrika, Beracun tapi Kaya Manfaat - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Pohon Sosis (Kigelia Africana): Si Unik dari Afrika, Beracun tapi Kaya Manfaat
Jan 30th 2026, 00:00 by Mikaela Dian Sasami

Tak banyak orang tahu bahwa pohon ini menyimpan kisah panjang tentang racun, obat, dan hubungan manusia dengan alam (Foto: Dokumen penulis)
Tak banyak orang tahu bahwa pohon ini menyimpan kisah panjang tentang racun, obat, dan hubungan manusia dengan alam (Foto: Dokumen penulis)

Ketika berjalan di taman kota atau kawasan kampus tertentu, Sahabat Kumparan mungkin pernah melihat buah besar menggantung dari pohon peneduh. Bentuknya panjang, bulat, dan sepintas menyerupai sosis raksasa. Pohon itulah yang dikenal dengan nama pohon sosis, atau secara ilmiah disebut Kigelia africana. Meski tampilannya unik dan mencuri perhatian, tak banyak orang tahu bahwa pohon ini menyimpan kisah panjang tentang racun, obat, dan hubungan manusia dengan alam.

Pohon sosis merupakan tanaman asli Afrika tropis, khususnya wilayah Afrika bagian selatan dan timur. Di habitat asalnya, pohon ini tumbuh di savana, hutan terbuka, dan daerah sekitar sungai yang lembap. Tanaman ini menyukai tanah aluvial yang subur dan mampu bertahan di berbagai kondisi lingkungan. Karena sifatnya yang adaptif, pohon sosis kemudian dibudidayakan di banyak negara tropis, termasuk Indonesia.

Deskripsi singkat pohon sosis (Gambar: Dokumen penulis)
Deskripsi singkat pohon sosis (Gambar: Dokumen penulis)

Di Indonesia, pohon sosis lebih dikenal sebagai tanaman peneduh dan penghias ruang terbuka hijau. Pohon ini kerap ditanam di taman kota, alun-alun, kampus, hingga tepi jalan protokol. Tajuknya lebar dan rindang, sehingga cocok sebagai peneduh alami. Pertumbuhannya relatif cepat dan tidak memerlukan perawatan rumit, membuatnya disukai pengelola ruang publik.

Nama pohon sosis berasal dari bentuk buahnya yang sangat khas. Buahnya menggantung dengan ukuran besar dan memanjang, mirip sosis dalam selongsong. Nama ilmiahnya, Kigelia, berasal dari istilah bahasa Bantu Mozambik, "kigeli-keia", yang berarti sosis. Keunikan inilah yang membuat pohon ini mudah dikenali, bahkan oleh orang awam yang belum pernah mempelajarinya.

Pohon sosis merupakan tanaman asli Afrika tropis, khususnya wilayah Afrika bagian selatan dan timur. Buahnya menjadi sumber makanan bagi satwa seperti gajah, babun, dan antelop (Foto: https://www.pexels.com/photo/a-black-carabao-near-the-tree-15409582/)
Pohon sosis merupakan tanaman asli Afrika tropis, khususnya wilayah Afrika bagian selatan dan timur. Buahnya menjadi sumber makanan bagi satwa seperti gajah, babun, dan antelop (Foto: https://www.pexels.com/photo/a-black-carabao-near-the-tree-15409582/)

Secara fisik, pohon sosis dapat tumbuh hingga dua puluh meter. Batangnya lurus dengan kulit berwarna cokelat keabu-abuan dan cukup tebal. Daunnya majemuk menyirip dengan beberapa pasang anak daun berwarna hijau mengilap. Tajuknya melebar seperti payung, menyerupai pohon trembesi. Kombinasi ini membuat pohon sosis tampak kokoh sekaligus estetis di lingkungan perkotaan.

Daya tarik lain dari pohon sosis terletak pada bunganya. Bunga pohon ini berukuran besar dan tumbuh menggantung pada tangkai panjang. Warnanya mencolok, mulai dari merah marun hingga keunguan gelap. Bunganya mekar pada malam hari dan mengeluarkan aroma tajam. Aroma tersebut bukan tanpa tujuan, melainkan untuk menarik kelelawar sebagai penyerbuk utama.

Sifat beracun tersebut justru menjadi dasar pemanfaatan pohon sosis dalam pengobatan tradisional Afrika (Foto: Dokumen penulis)
Sifat beracun tersebut justru menjadi dasar pemanfaatan pohon sosis dalam pengobatan tradisional Afrika (Foto: Dokumen penulis)

Setelah masa berbunga, pohon sosis menghasilkan buah yang menjadi ciri paling ikonik. Buahnya dapat mencapai panjang satu meter dengan berat hingga sepuluh kilogram. Buah tersebut menggantung pada tangkai seperti tali, terlihat dramatis dan sedikit mengintimidasi. Meski tampak menarik, buah ini tidak boleh dikonsumsi langsung oleh manusia karena beracun.

Racun pada buah pohon sosis berasal dari kandungan senyawa alami seperti naphthoquinone dan iridoid. Jika dikonsumsi mentah, buah ini dapat menyebabkan iritasi mulut, gangguan pencernaan, dan efek pencahar kuat. Kontak langsung dengan daging buah segar juga dapat menimbulkan iritasi kulit. Karena itu, buah pohon sosis tidak pernah dijadikan buah konsumsi sehari-hari.

Menariknya, sifat beracun tersebut justru menjadi dasar pemanfaatan pohon sosis dalam pengobatan tradisional Afrika. Selama ratusan tahun, masyarakat lokal memanfaatkan buah, kulit batang, dan akar pohon ini sebagai bahan obat. Ekstraknya digunakan untuk mengatasi malaria, infeksi kulit, hingga peradangan. Pengetahuan ini diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian penting dari budaya setempat.

P

Buahnya dapat mencapai panjang satu meter dengan berat hingga sepuluh kilogram (Foto: Dokumentasi penulis)
Buahnya dapat mencapai panjang satu meter dengan berat hingga sepuluh kilogram (Foto: Dokumentasi penulis)

enelitian modern kemudian menemukan bahwa pohon sosis memang mengandung berbagai senyawa bioaktif. Flavonoid, fenol, dan iridoid di dalamnya memiliki sifat antibakteri, antijamur, dan antiinflamasi. Dengan pengolahan yang tepat, kandungan beracun dapat dikendalikan dan manfaatnya dimaksimalkan. Inilah sebabnya pohon sosis mulai dilirik dunia farmasi dan kosmetik.

Dalam industri kosmetik, ekstrak buah pohon sosis digunakan sebagai bahan sabun, krim, dan produk perawatan kulit. Kandungan antioksidannya dipercaya membantu menjaga kesehatan kulit dan memperlambat penuaan. Produk tradisional Afrika telah lama memanfaatkan bahan ini, dan kini formulasi modern mulai mengadaptasinya secara lebih aman.

Di alam liar, pohon sosis juga memegang peran ekologis penting. Buahnya menjadi sumber makanan bagi satwa seperti gajah, babun, dan antelop. Satwa-satwa tersebut tidak terdampak racun seperti manusia dan justru membantu penyebaran biji. Dengan cara ini, pohon sosis berkontribusi pada keseimbangan ekosistem alami.

Pohon sosis mengajarkan satu hal penting tentang alam. Sesuatu yang tampak berbahaya tidak selalu harus dijauhi sepenuhnya. Dengan pengetahuan dan pengolahan yang tepat, racun dapat berubah menjadi manfaat. Kigelia africana bukan sekadar pohon unik di taman kota, melainkan simbol hubungan kompleks antara manusia, alam, dan ilmu pengetahuan.

Referensi

Atawodi, S. E., & Olowoniyi, O. D. (2015). Phytochemical composition and biological activities of Kigelia africana. Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry, 4(1), 1–7.

Bello, I. A., Ndukwe, G. I., Audu, O. T., & Habila, J. D. (2016). A bioactive flavonoid from Kigelia africana. Journal of Medicinal Plants Research, 10(2), 19–25.

Fauzan, M., Rahmawati, D., & Prasetyo, A. (2020). Potensi fitokimia dan aktivitas biologis Kigelia africana sebagai tanaman obat. Jurnal Biologi Tropis, 20(3), 412–421.

Gill, L. S. (1992). Ethnomedical uses of plants in Nigeria. Benin City: Uniben Press.

Grace, O. M., Light, M. E., Lindsey, K. L., Mulholland, D. A., van Staden, J., & Jäger, A. K. (2002). Antibacterial activity and isolation of antibacterial compounds from fruit of Kigelia africana. South African Journal of Botany, 68(2), 220–222.

Joffe, P. (2003). Creative gardening with indigenous plants: A South African guide. Cape Town: Briza Publications.

Putri, A. R., Handayani, S., & Wibowo, M. A. (2014). Uji efektivitas sabun antibakteri berbahan ekstrak buah Kigelia africana. Jurnal Farmasi Indonesia, 7(2), 85–92.

Wikipedia contributors. (2025). Kigelia africana. Wikipedia, The Free Encyclopedia. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Kigelia_africana

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url