Misteri Jam yang Berlari: Mengapa Masa Tua Terasa Lebih Singkat? - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Misteri Jam yang Berlari: Mengapa Masa Tua Terasa Lebih Singkat?
Jan 27th 2026, 23:00 by Wahyu Alfredo Purba

Sumber dari AI
Sumber dari AI

Mari kita lupakan sejenak teori sains atau hitungan matematika. Mari bicara jujur tentang apa yang kita rasakan saat berdiri di depan cermin, menyadari bahwa tiba-tiba saja kita sudah bukan lagi anak kecil yang dulu.

Dulu, saat kita masih kecil, satu hari itu terasa sangat raksasa. Sore hari yang cerah bisa terasa seperti satu keabadian yang indah—seolah-olah hari esok adalah sesuatu yang sangat jauh dan tidak perlu dikhawatirkan. Kita tidak pernah mengecek jam, karena satu-satunya penanda waktu bagi kita adalah rasa lapar atau teriakan ibu yang menyuruh kita pulang untuk mandi. Saat itu, waktu berjalan lambat karena setiap detik terasa "baru". Kita benar-benar hadir di sana. Kita memperhatikan semut yang berjalan di tanah, kita merasakan angin yang menerpa wajah, dan kita tidak punya beban di pundak yang menyeret kita untuk memikirkan minggu depan.

Namun, seiring kita tumbuh, dunia mulai menuntut kita untuk selalu "menunggu" sesuatu yang lain. Kita mulai hidup dalam jadwal. Kita belajar menunggu jam pulang sekolah, menunggu liburan semester, menunggu gajian, hingga menunggu akhir pekan. Tanpa kita sadari, kita berhenti menikmati "saat ini" karena pikiran kita selalu melompat ke satu jam ke depan atau satu bulan ke depan. Kita tidak lagi benar-benar melihat jalanan yang kita lalui setiap pagi; kita hanya ingin cepat sampai ke kantor. Kita tidak lagi merasakan rasa kopi kita; kita hanya ingin kafeinnya segera bekerja agar kita bisa lanjut bekerja.

Inilah yang membuat waktu terasa seperti tergelincir dari genggaman. Hidup kita menjadi kumpulan rutinitas yang otomatis. Saat kita melakukan hal yang sama berulang-ulang tanpa rasa kagum, otak kita secara tidak sadar menganggap hari-hari itu tidak penting untuk diingat secara detail. Hasilnya? Ketika kita menoleh ke belakang di akhir tahun, kita merasa seperti baru saja berkedip dan semuanya sudah lewat. Waktu terasa cepat bukan karena ia memang berlari, tapi karena kita jarang berhenti untuk benar-benar merasakannya. Kita terlalu sibuk "bertahan hidup" sampai lupa untuk benar-benar "hidup".

Mungkin, cara untuk melambatkan waktu kembali bukan dengan cara melawan usia, tapi dengan kembali belajar menjadi anak kecil yang penuh rasa ingin tahu. Mencoba melihat dunia dengan mata yang baru, melakukan sesuatu yang bodoh atau berbeda sesekali, dan berani untuk meletakkan ponsel sejenak agar kita bisa melihat langit yang berubah warna. Waktu akan selalu terasa singkat bagi mereka yang terburu-buru, tapi ia akan terasa cukup bagi mereka yang berani untuk berhenti sejenak dan sekadar bernapas.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url