Kapan Orang Tua Harus Curiga Anak Mengalami Pubertas Dini? Foto: Shutterstock
Seorang ibu menceritakan pengalamannya lewat akun TikTok @ragamgempita saat mengetahui anaknya didiagnosis pubertas dini. Awalnya, ia menyadari perubahan bau badan pada anaknya saat usia hampir 8 tahun. Setelah mencari berbagai informasi, anaknya diduga mengalami pubertas perkoks.
Mereka akhirnya konsultasi ke dokter anak subspesialis endokrin di RS Sardjito Yogyakarta karena keterbatasan dokter di kota asal. Hasil pemeriksaan menunjukkan tanda pubertas dini, termasuk pertumbuhan payudara, sehingga dilakukan rontgen bone age serta pemeriksaan darah dan hormon.
Setelah mempertimbangkan perkembangan anak yang semakin cepat dan munculnya tanda pubertas lanjutan selama satu tahun, akhirnya diputuskan sang anak menjalani terapi hormon demi kesiapan fisik dan mentalnya. Terapi akan dilanjutkan secara berkala, dengan kontrol berikutnya tiga bulan kemudian.
Gak nyangka kalo anakku di diagnosis pubertas dini, aku kira anakku cepat tinggi karna gizinya bagus ternyata setelah diperiksa aku salah🥹 #pubertasprekok#pubertasdini#pubertasanak
Menanggapi kondisi ini, Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A(K), menegaskan bahwa masalah pubertas dini pada anak sering kali disepelekan, padahal merupakan kondisi yang sangat penting dan harus ditangani secara khusus oleh dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi.
Menurutnya, orang tua perlu mulai curiga jika pada anak perempuan terjadi pertumbuhan payudara sebelum usia 8 tahun, atau pada anak laki-laki terdapat pembesaran testis sebelum usia 9 tahun.
Ilustrasi ibu dan anak praremaja. Foto: Shutterstock
Penyebab pubertas dini cukup beragam. Sebagian besar memang tidak diketahui secara pasti, namun bisa dipengaruhi faktor genetik hingga kondisi medis tertentu seperti tumor di otak.
"Faktor dari lingkungan, adanya paparan hormon dari luar atau ada kondisi medis tertentu, misalnya tumor pada otak ini juga bisa menyebabkan anak mengalami pubertas dini," ucap dr. Reza saat dihubungi kumparanMOM, Senin (12/1).
Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Secara fisik, anak berisiko mengalami pertumbuhan tinggi badan yang tidak optimal karena masa pertumbuhan bisa berhenti lebih cepat. Dari sisi psikologis dan sosial, anak juga bisa merasa tertekan karena belum siap menghadapi perubahan tubuh yang membuatnya berbeda dari teman seusianya.
"Jadi kalau ada gejala tadi, jangan lupa Moms and Dads semuanya segera konsultasi ke dokter endokrinologi anak untuk nanti mendapatkan penanganan agar pubertasnya itu bisa lebih dipelankan. Sehingga tinggi badannya bisa lebih optimal dan anak secara psikologis tidak terganggu ya untuk bergaul dengan teman-teman seusianya," pungkasnya.