Ilustrasi: Donald Trump. Foto: Igor Omilaev/Unsplash
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat yang penuh kontroversial karena kebijakannya yang sering menggemparkan dunia. Beberapa bulan yang lalu, Trump tengah menjadi perbincangan hangat di ranah ekonomi internasional karena kebijakan tarifnya yang dinilai merugikan banyak negara. Dari narasi ini timbulah pertanyaan, apakah kebijakan tersebut berdampak terhadap perekonomian Indonesia? Jika iya, langkah apa yang perlu kita lakukan untuk mengatasi hal tersebut? Untuk menjawab rasa penasaran tersebut, simak penjelasan berikut ini.
A. Kebijakan Tarif Trump dan Respons Dunia
Pada awal tahu 2025, Donald Trump telah mengeluarkan kebijakan tarif barang impor yang masuk ke Amerika Serikat kepada Mexico dan Kanada sebesar 25% dan menaikkan dua kali lipat bea masuk pada barang produksi Cina hingga 20% (Sulistya, 2025). Sebelumnya, Trump telah mengkonfirmasi bahwa kebijakan ini akan berlaku pada Selasa, 4 Februari 2025.
Menurut Trump tindakan ini akan mendorong perkembangan industri manufaktur, melindungi lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan pajak di Amerika Serikat. Laporan dari BBC News Indonesia (2025) menyatakan barang-barang dari China, Meksiko, dan Kanada menyumbang lebih dari 40% impor ke Amerika Serikat pada tahun 2024.
Menanggapi kebijakan ini, para petinggi Uni Eropa menegaskan bahwa mereka siap membalas jika kepentingan ekonomi mereka diserang dikarenakan kebijakan ini telah menyebabkan pasar saham negara-negara di Eropa mengalami penurunan yang signifikan. Data Komisi Eropa menunjukkan, pada tahun 2023 defisit perdagangan Amerika Serikat dengan Uni Eropa telah mencapai 155,8 miliar euro (Arbar, 2025). Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa semua tarif ini akan menaikkan harga bagi konsumen (Santoso, 2025).
Selain petinggi Uni Eropa, Presiden China, Xi Jinping menanggapi tindakan trump dengan menetapkan kebijakan yang sama, diantaranya penetapan tarif 15 % pada batubara dan produk gas alam cair serta tarif 10 % untuk minyak mentah, mesin pertanian, dan mobil yang memiliki cc besar. Tarif tersebut dapat mempersulit produsen Amerika Serikat untuk mengekspor produknya ke China karena harga produk mereka akan menjadi lebih mahal (Wijaya, 2025).
Tidak kalah dari Presiden China, Perdana Menteri Ontario di Kanada, Doug Ford, mengkonfirmasi bahwa ia akan menerapkan tarif tambahan sebesar 25% pada ekspor listrik Kanada ke tiga negara bagian Amerika Serikat: Michigan, New York, dan Minnesota (BBC News, 2025). Justin Trudeau selaku Perdana Menteri Kanada juga menuduh Trump merencanakan "keruntuhan total ekonomi Kanada" karena pemberlakuan tarif tersebut akan memudahkan Amerika Serikat untuk "mencaplok" Kanada.
Respons terakhir berasal dari Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, ia memerintahkan tarif pembalasan sebagai respons atas semua barang yang berasal dari Meksiko ke Amerika Serikat (BBC News, 2025). Meksiko telah mempersiapkan kemungkinan tarif pembalasan atas impor dari Amerika Serikat, mulai dari 5 hingga 20 persen, untuk daging babi, keju, produk segar, baja dan aluminium.
B. Dampak Kebijakan Trump Terhadap di Indonesia
Kebijakan Tarif Trump telah membawa pengaruh yang besar tidak hanya kepada negara mitra dagangnya saja, tetapi juga negara lain yang secara langsung tidak menjalin hubungan dengan Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan posisi Amerika yang sudah menjadi hegemoni dan pemimpin dunia dalam perdagangan. Di Indonesia sendiri dampak dari kebijakan ini cukup terasa sehingga mengakibatkan perubahan dalam tatanan perekonomian. Dampak tersebut diantaranya:
1. Gejolak Harga Komoditas dan Fluktuasi Nilai Tukar Rupiah
Indonesia merupakan salah satu eksportir utama minyak sawit dan batu bara di dunia. Kebijakan tarif yang diterapkan Trump dapat mengganggu rantai pasokan global dan mengurangi permintaan negara lain terhadap produk-produk tersebut. Selain itu, ketidakpastian pasar yang muncul akibat kebijakan Amerika Serikat dapat menyebabkan fluktuasi harga komoditas yang berdampak pada pendapatan negara dan kesejahteraan pengusaha serta petani pada sektor ini.
Selain itu, ketidakpastian global akibat kebijakan ekonomi Trump seringkali mendorong investor untuk mengalihkan investasinya ke aset yang lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat. Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar melemah, yang berdampak pada meningkatnya biaya impor dan inflasi domestik. Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia serta meningkatkan tekanan terhadap kebijakan moneter Bank Indonesia.
2. Terganggunya Rantai Pasokan Global dan Terancamnya Produsen Lokal
Kebijakan tarif Amerika Serikat terhadap mitra dagangnya seperti Meksiko dan Kanada dapat mengganggu rantai pasokan global, termasuk untuk industri otomotif dan elektronik. Indonesia, sebagai bagian dari rantai pasokan global dalam sektor ini, bisa terdampak jika terjadi gangguan logistik atau peningkatan biaya produksi. Hal ini dapat mengurangi daya saing industri manufaktur Indonesia di pasar internasional.
Selain itu, Tarif Amerika Serikat yang semakin tinggi terhadap produk impor dagang mitra utama akan membuat negara lain, misalnya China lebih banyak mengekspor barangnya ke Indonesia yang dinilai tarifnya jauh lebih murah. Selain tarifnya yang murah, secara geografis Indonesia juga lebih dekat jaraknya ke China. Hal ini akan mengakibatkan banyaknya produk China sehingga akan mendominasi pasaran di Indonesia yang mengakibatkan terancamnya produsen lokal
C. Langkah yang Perlu Dilakukan Indonesia
Dalam menghadapi ketidakpastian akibat kebijakan tarif yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump, Indonesia perlu mengambil langkah strategis agar perekonomiannya tetap stabil dan daya saing tetap terjaga. Berikut beberapa langkah strategis yang dapat diambil:
1. Diversifikasi Pasar Ekspor
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa yang terdampak perang dagang, Indonesia dapat memperluas jangkauan ekspornya ke negara-negara baru. Kawasan seperti Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan memiliki potensi besar sebagai pasar alternatif bagi produk-produk Indonesia, termasuk komoditas, manufaktur, dan barang konsumsi. Diversifikasi ini akan membantu mengurangi risiko ekonomi akibat ketidakpastian perdagangan global.
2. Memperkuat Perdagangan Regional
Indonesia dapat meningkatkan kerja sama ekonomi dengan negara-negara di kawasan ASEAN serta memanfaatkan perjanjian perdagangan seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP). Dengan mempererat hubungan dagang di kawasan Asia Pasifik, Indonesia bisa mendapatkan akses yang lebih stabil ke pasar regional dan mengurangi dampak negatif dari kebijakan proteksionisme yang diterapkan negara besar seperti Amerika Serikat.
3. Menarik Investasi Alternatif
Ketidakpastian global akibat kebijakan ekonomi Trump dapat dimanfaatkan oleh Indonesia untuk menarik investor yang ingin menghindari risiko berbisnis di Amerika Serikat dan Uni Eropa. Dengan menerapkan kebijakan investasi yang menarik, seperti insentif pajak, penyederhanaan regulasi, dan peningkatan infrastruktur, Indonesia dapat menjadi destinasi alternatif bagi perusahaan multinasional yang mencari lokasi produksi baru di Asia.
4. Memanfaatkan Momentum untuk Reformasi Ekonomi
Situasi global yang tidak menentu bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mempercepat reformasi ekonomi dalam negeri. Pemerintah dapat meningkatkan daya saing dengan memperbaiki kebijakan pajak, memberikan kemudahan dalam berusaha, dan meningkatkan efisiensi birokrasi. Reformasi ini akan membuat Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional serta meningkatkan daya tarik bagi investor dan pelaku usaha.