Bagaimana Menjelaskan Banjir dan Longsor kepada Anak? Simak Panduan Psikolog! - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Bagaimana Menjelaskan Banjir dan Longsor kepada Anak? Simak Panduan Psikolog!
Dec 7th 2025, 13:37 by kumparanMOM

Sejumlah warga berada di Posko Pengungsian korban banjir bandang di Batu Busuk, Pauh, Padang, Sumatera Barat, Rabu (26/11/2025). Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO
Sejumlah warga berada di Posko Pengungsian korban banjir bandang di Batu Busuk, Pauh, Padang, Sumatera Barat, Rabu (26/11/2025). Foto: Iggoy el Fitra/ANTARA FOTO

Informasi terkait banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera mungkin sudah diketahui anak-anak melalui televisi atau informasi lainnya. Sebagian orang tua juga menjadikan momen ini untuk meningkatkan empati anak.

Namun informasi soal bencana bisa membuat anak bingung, sedih, bahkan takut. Nah, agar informasi tersebut diterima anak dengan baik, yuk simak penjelasan psikolog pendidikan dari Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani, tentang bagaimana menjelaskan situasi bencana dengan cara yang tepat sesuai usia anak.

Ketua Yayasan Asa Pendidikan Keluarga, Orissa Anggita Rinjani, M.Psi., Psikolog. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan
Ketua Yayasan Asa Pendidikan Keluarga, Orissa Anggita Rinjani, M.Psi., Psikolog. Foto: Nabilla Fatiara/kumparan

Cara Menjawab Pertanyaan Anak tentang Banjir dan Longsor

1. "Banjir dan tanah longsor itu apa sih, bu? Kondisi itu berbahaya, ya?"

Orang tua disarankan memberikan penjelasan sederhana, terutama untuk anak usia dini. Misalnya:

-Untuk anak kecil

Jelaskan dengan perbandingan yang mudah mereka pahami.

"Banjir itu seperti ketika ember diisi terlalu penuh hingga airnya tumpah. Begitu juga ketika hujan terlalu banyak, air bisa memenuhi jalan dan rumah. Longsor terjadi ketika tanah di gunung atau bukit menjadi terlalu berat karena hujan, lalu jatuh ke bawah."

-Untuk anak yang lebih besar

Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Shutterstock
Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Shutterstock

Penjelasan dapat diperdalam.

"Banjir dan longsor bisa terjadi karena hujan deras berkepanjangan, tapi ada penyebab lain seperti saluran air tersumbat sampah, atau penebangan hutan berlebihan sehingga tidak ada akar pohon yang menyerap air dan menahan tanah."

2. "Kenapa mereka sedih? Apa karena ada yang terluka atau meninggal?"

Jawaban yang jujur dan empatik sangat penting.

"Iya, banyak orang yang terluka, bahkan ada yang meninggal. Banyak juga yang kehilangan rumah, kendaraan, dan barang-barang mereka. Mereka tidak bisa sekolah atau bekerja sementara waktu, jadi wajar kalau mereka merasa sedih."

3. "Aku bisa apa untuk bantu mereka?"

Apresiasi rasa empati anak sebelum memberi penjelasan.

"Ibu senang kamu mau membantu. Semua orang bisa membantu dengan cara berbeda. Kita tidak harus datang ke lokasi. Kita bisa mendoakan, berdonasi, menyumbang baju atau mainan yang masih layak, dan yang paling penting: tidak membuang sampah sembarangan serta ikut menjaga lingkungan."

Kondisi pengungsian korban banjir bandang dan longsor di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI
Kondisi pengungsian korban banjir bandang dan longsor di Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Foto: Bakom RI

Lalu, Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua saat Anak Takut atau Bingung?

Ketika anak menunjukkan ketakutan setelah melihat berita bencana, orang tua perlu melakukan validasi emosinya.

1. Validasi perasaan

"Tidak apa-apa kalau kamu merasa takut. Kamu boleh cerita ke ibu atau ayah."

2. Ajak diskusi tentang sumber ketakutannya. Pertanyaan seperti:

"Bagian mana yang membuat kamu paling takut?"

"Kamu takut ini akan terjadi pada kita?"

"Ada video atau cerita tertentu yang membuatmu takut?"

3. Berikan penjelasan yang menenangkan, namun tetap realistis.

Ilustrasi ibu dan anak perempuan. Foto: Prostock-studio/Shutterstock
Ilustrasi ibu dan anak perempuan. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

"Banjir dan longsor tidak terjadi setiap hari."

"Daerah kita bukan wilayah rawan longsor dan rumah kita aman." (Jika memang demikian)

"Kalau ada keadaan darurat, kita bisa berpindah ke tempat aman dan ada petugas yang akan membantu."

Kemudian, Perlukah Anak Dibatasi dari Akses Berita Bencana?

Menurut Orissa, terutama pada anak usia dini atau anak yang mudah cemas, batasi tayangan yang menampilkan:

-Orang terluka atau meninggal

-Situasi mencekam, teriakan, atau tangisan

-Rekaman detik-detik rumah hancur atau orang tertimbun

"Orang tua dapat memperlihatkan foto atau video video situasi banjir secara umum, dan juga video yang memperlihatkan kebaikan misal saat ada yang menolong evakuasi dengan naik perahu karet," pungkas Orissa kepada kumparanMOM, Kamis (4/12).

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url