Wawancara Eksklusif Janice Tjen: Perjuangan Jadi Atlet Tenis RI Pengukir Sejarah - juandry blog

Halaman ini telah diakses: Views
kumparan - #kumparanAdalahJawaban
 
Wawancara Eksklusif Janice Tjen: Perjuangan Jadi Atlet Tenis RI Pengukir Sejarah
Nov 17th 2025, 09:37 by kumparanSPORT

Pemain olahraga tenis asal Indonesia, Janice Tjen. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Pemain olahraga tenis asal Indonesia, Janice Tjen. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Janice Tjen telah membuat bangga Indonesia sepanjang 2025. Sejumlah sejarah diukirnya, tetapi perjuangan mencapai titik ini jelas tidaklah mudah.

Meski tidak lahir di keluarga dengan latar belakang atlet tenis, Janice membuktikan bahwa kerja keras dan kegigihan mampu membuka jalan menuju panggung internasional. Kariernya sebagai petenis diawali saat menempuh pendidikan sekaligus berkompetisi di Amerika Serikat melalui jalur student-athlete.

Di sana, Janice mendapat fasilitas, lingkungan, dan kompetisi yang jauh lebih layak dibanding di Indonesia, sehingga membantu mengembangkan mental, teknik, dan fisiknya untuk level profesional. Ia kemudian tampil di berbagai turnamen internasional.

Awalnya hanya di turnamen ITF, tetapi lalu Janice bisa eksis di turnamen WTA hingga lolos kualifikasi Grand Slam. Salah satu tonggak sejarah terbesar adalah tampil di US Open, di mana salah satu lawannya adalah eks juara turnamen tersebut, yakni Emma Raducanu.

Petenis Indonesia Janice Tjen saat melawan Inggris Emma Raducanu pada pertandingan putaran kedua US Open di Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Kamis (28/8/2025). Foto: Mike Segar/REUTERS
Petenis Indonesia Janice Tjen saat melawan Inggris Emma Raducanu pada pertandingan putaran kedua US Open di Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Kamis (28/8/2025). Foto: Mike Segar/REUTERS

Di sektor tunggal putri WTA, Janice Tjen tercatat menjadi runner up Sao Paolo Open (250), lalu menjuarai Jinan Open (125) dan Chennai Open (250). Sementara di ganda putri, ia menjuarai Suzhou Open (125), Guangzhou Open (250), dan Chennai Open (250).

Untuk gelar Guangzhou Open, Janice meraihnya bersama Katarzyna Piter asal Polandia. Sementara di Suzhou dan Chennai Open, ia menjadi juara bersama Aldila Sutjiadi. Ia dan Aldila juga bukan partner baru, mereka pernah meraih perunggu Asian Games 2022.

Kini, Janice Tjen menduduki peringkat 53 dunia di kategori tunggal putri. Ia ogah berpuas diri dan ingin terus meningkatkan lagi prestasinya.

kumparan berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengannya. Simak berikut ini.

Bagaimana awal Janice Tjen mengenal tenis?

Awalnya dari teman, terutama karena dekat dengan Priska [Madelyn Nugroho] sejak kecil dan satu sekolah. Orang tua kami saling mengenal, lalu diajak mencoba bermain tenis dan akhirnya mulai ikut latihan.

Apakah benar keluargamu tidak ada atlet tenis profesional?

Iya, memang enggak ada dari keluarga, orang tua, tante, om, sepupu, semua memang enggak ada sih yang terjun di dunia tenis.

Nah itu awalnya pas SD, itu ekskul atau main aja biasa gitu?

Main biasa aja sih, maksudnya diajakin, "Oh ini apa, ikut aja nih, bawa anaknya olahraga, aktivitas di klub ini," gitu dan akhirnya dibawalah sama orang tua untuk ke sana dan awalnya itu memang seminggu sekali latihan, memang untuk iseng-iseng aja dan dari situ pelatihnya ngomong ke orang tua kalau sepertinya ada bakat dan dicoba dulu untuk tiga minggu sekali dan akhirnya dari situ tiga minggu sekali dan akhirnya sampai setiap hari. Sampai sekarang.

Pernah coba olahraga lain juga selain tenis?

Awalnya ya pas SD itu di sekolah pastinya kan di kalau pelajaran olahraga kan banyak dikenalkan olahraga-olahraga lain juga, di situ juga main futsal, main basket, dan papa saya itu main badminton. Nah, jadinya di situ juga main juga badminton.

Kenapa akhirnya mantap pilih tenis?

Tenis itu mungkin karena lebih di, diseriusin kali ya. Karena kan mulai dari seminggu sekali tiba-tiba jadi tiga minggu sekali dan habis itu tiba-tiba jadi setiap hari ya. Maksudnya dari tiga minggu sekali itu memang senang juga main tenis gitu dan maksudnya senang dengan improvement sendiri juga gitu, "Oh, mulai bisa main poin. Oh, mulai bisa menang lawan yang ini," kayak gitu. Jadi lama-lama juga makin penasaran gitu dengan olahraga ini.

Bisa diceritakan enggak gimana pertama kali kamu mendapatkan raket pertama kamu?

Pertama kan enggak ngerti apa-apa ya, jadi cuma ingat itu raket warnanya merah, ada silvernya sedikit ya. Ya udah gitu kan, enggak cuma saya doang yang dibawa ke main tenis, kan ada kakak juga dan ya raketnya sama gitu, ya udah gitu. Cuma dikasih, habis itu, "Oh ya udah," gitu, "kita main pakai raket ini," gak ngerti apa-apa, jadi ya, ya udah for fun aja.

Jadi itu raketnya kembar gitu sama kakak atau gimana?

Iya, kembar.

Nah, kalau, kalau bisa ngomong ke Janice waktu kecil yang baru pertama kali megang raket, kamu mau bilang apa waktu itu?

Terus kerja keras dan tetap enjoy dengan perjalanannya karena perjalanannya masih panjang.

Katanya kamu dulu lebih ingin main tenis daripada sekolah. Itu benar gak?

Betul. Ya, karena dari dulu memang mungkin lebih senangnya main olahraga ya dibanding duduk di kelas gitu. Apa, dengerin pelajaran, dan setiap kali kalau sekolah pasti senangnya itu pas jam pelajaran olahraga. Jadinya juga, ya jadi lebih condong ke situ dan maksudnya mungkin dari kecil juga udah kompetitif sekali kali ya.

Kalau peran keluarga sendiri untuk mendukung kamu ke tenis itu seberapa besar?

Pastinya besar sekali ya. Tanpa mereka menyetujui untuk mulai tiga minggu sekali, itu kan juga udah sesuatu langkah pertama ya dari orang tua untuk mendukung kalau misalnya, oke, kita coba dia untuk kita support, bisa sampai mana tenisnya dan maksudnya sampai sekarang juga untuk tetap support dengan pilihan-pilihan saya untuk terjun ke profesional, itu juga mereka kasih decision itu untuk dari diri saya sendiri juga.

Tapi awalnya ada pertentangan gitu atau memang udah dibolehin aja?

Enggak pernah sih ada pertentangan, mereka sih cuma, cuma satu, mereka tuh bantu untuk bikin decision itu untuk harus ke Amerika untuk sekolah lewat liga mahasiswa di sana.

Apa yang membuat Janice memutuskan untuk pindah ke AS?

Ya, dari orang tua sih pastinya. Dan saya sih sebenarnya untuk informasi di liga mahasiswa dan untuk kuliah di Amerika itu memang sebelumnya itu kurang, kurang tahu ya di sana bagaimana gitu dan orang tua bisa mendapatkan informasi-informasi itu dan akhirnya saya pergi untuk visit ke beberapa sekolahan dan sampai sana itu ya syok, kaget gitu dengan fasilitas-fasilitas mereka dan environment mereka di sana seperti apa.

Jadi kamu ke AS demi melanjutkan karier tenis yang lebih profesional lagi?

Iya, jadi untuk sebagai stepping stone untuk menuju ke profesional. Jadi di sana juga bisa gak cuma dapat degree tapi juga bisa tetap melanjutkan karier di tenis saya juga.

Culture shock apalagi yang kamu alami saat ke AS?

Yang pastinya ya dari program-programnya mereka, dari pemain-pemain juga di sana itu kompetisinya juga tinggi sekali dan memang banyak pemain-pemain seluruh dunia, gak cuma dari Amerika aja yang mereka rekrut gitu dan jadi kompetisinya itu juga sudah sebagai trial atau sneak peek gitu untuk ke terjun ke dunia profesional.

Nah, lalu proses adaptasi kamu di sana tuh gimana?

Ya, sebenarnya proses adaptasinya ya pertama sih ya kadang tuh suka di culture gimana komunikasi dengan pelatih di sana, dengan gimana, biasanya kan karena olahraga tenis itu kan sangat individual ya, dan tiba-tiba itu kita punya yang namanya teammate gitu. Dan dari situ awalnya juga syok banget kayak teammate-nya itu sangat-sangat suportif satu sama lain dan memang saling mau, saling mendukung untuk menjadi yang lebih baik lagi.

Waktu di AS, katanya kamu sempat ragu nih untuk jadi pemain pro, itu kenapa?

Karena memang salah satunya itu yang paling berat bagi saya kalau untuk jadi pemain profesional itu harus traveling terus dan jauh, dan saya itu sebenarnya kurang suka sama traveling. Jadi memang itu sih yang bikin ragu pastinya karena kan saya juga, saya juga tahu gitu jadi pemain profesional itu gak gampang dan saya harus enjoy gitu untuk terus di, terus untuk menjalani karier sebagai pemain profesional dan pastinya juga di dana itu juga tidak, tidak murah untuk menjadi pemain profesional.

Nah, katanya yang bikin kamu hilang keraguan, pelatih di sana ya?

Iya, banyak diskusi yang terjadi di sana selama saya di kampus. Ya pelatih di sana sih menyarankan saya untuk mencoba minimal 2 tahun untuk menjadi, mencoba tur gitu karena mereka melihat ada potensial di saya dan mereka menyarankan juga sebagai, bukan sebagai pelatih aja gitu, sebagai orang dekat untuk tidak, supaya saya tidak menyesal lah in the future gitu.

Pemain olahraga tenis asal Indonesia, Janice Tjen. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
Pemain olahraga tenis asal Indonesia, Janice Tjen. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Bisa kasih gambaran gak sih untuk ikut satu turnamen itu berapa biaya yang dibutuhkan?

Ya, pastinya setiap turnamen itu kan beda-beda ya, apalagi di tiket pesawat itu tergantung jauh apa dekat. Dan hotel udah pasti juga beda-beda tapi sekitar, ya tergantung tempatnya juga, ada yang lebih murah, ada yang lebih mahal. Jadinya ya bisa, kira-kira bisa estimasi sendiri juga sih itu di bagian itunya.

Jadi kamu semuanya melakukan sendiri berarti saat 2 tahun pertama itu ya?

Saya juga di mulai main profesional full time ini kan juga belum 2 tahun ya. Saya kan juga mulai dari Juni tahun lalu. Dan memang semua itu sendiri dan memang ada bantuan-bantuan dari sponsor yang pastinya karena tanpa sponsor juga saya pastinya juga tidak mungkin gitu dengan semua biaya ini.

Nah, awalnya itu gimana bisa mendapat sponsor atau untuk turnamen awal lah, itu gimana?

Ya, untuk turnamen awal itu memang kan saya udah ada satu sponsor karena kan juga tahu dari teman, terus ketemu, dan dia sudah melihat achievement saya selama di kampus dan mereka percaya kalau saya bisa meraih lebih tinggi lagi.

Dalam hal ikut turnamen-turnamen ini ada bantuan dari keluarga?

Dari keluarga ya pastinya ada bantuan sedikit dan ya mereka juga kan gak cuma, mereka kan selalu support saya dengan pilihan-pilihan saya dan tetap, biarpun saya juga, dan bukan cuma itu aja tapi di saat saya lagi down juga, mereka selalu support saya untuk tetap percaya dengan saya kalau saya bisa.

Apa tantangan terbesar jadi petenis Indonesia?

Tantangan paling susahnya itu sebagai atlet tenis Indonesia itu, kita itu gak ada turnamen di Indonesia, turnamen profesional sama sekali di Indonesia untuk saat ini. Dan untuk kita main dan ber-sparring gitu dengan lawan-lawan di luar itu kita harus travel ke luar dan itu kan gak mudah dan gak banyak biayanya juga.

Pemenang Indonesia, Janice Tjen dan Polandia, Katarzyna Piter, berpose dengan trofi ganda putri setelah mengalahkan Eudice Chong dari Hong Kong dan Liang En-shuo dari Taiwan dalam Guangzhou Open di Guangzhou, Guangdong, China, Minggu (26/10/2025). Foto: Stringer/AFP
Pemenang Indonesia, Janice Tjen dan Polandia, Katarzyna Piter, berpose dengan trofi ganda putri setelah mengalahkan Eudice Chong dari Hong Kong dan Liang En-shuo dari Taiwan dalam Guangzhou Open di Guangzhou, Guangdong, China, Minggu (26/10/2025). Foto: Stringer/AFP

Waktu di Chennai Open, dari final single gak sampai 3 jam mungkin langsung main di final double. Itu bagaimana menjaga stamina?

Sebelumnya juga di ITF kan memang sudah sering ya main single-double, rangkap juga. Dan saya juga udah tahu ada aturan kalau misalnya memang kalau rangkap seperti itu di setelah semifinal, semifinal dan final itu memang mereka cuma kasih jeda 30 menit maksimal. Dan saya memang udah mempersiapkan diri untuk kalau, untuk bisa rangkap di dua nomor itu dengan latihan terus, ya staminanya pasti harus dijaga terus juga.

6 tahun lalu kamu main di ASEAN School Games. Sekarang udah menjajal lumayan banyak turnamen WTA. Nyangka gak sih bisa secepat ini?

Pastinya sih gak nyangkasama sekali dengan hasilnya secara tertulis lah ya, secara ranking gitu ya pastinya gak nyangka untuk bisa naik secepat ini.

Nah, kamu juga rankingnya melesat tajam tuh dari tahun lalu sekarang sudah peringkat 50-an. Kuncinya menurut kamu apa, Janice?

Pastinya ya konsisten, harus kerja keras juga dan terus mau belajar terus dengan dari match sebelumnya.

Sedikit balik kemarin ke kuliah kamu waktu itu. Kamu ngambil jurusan Sosiologi, ya? Sebenarnya kenapa ngambil jurusan itu dan cita-cita kamu sebenarnya tuh apa sih?

Sebenarnya ngambil jurusan Sosiologi itu ya karena pastinya karena tenis. Kan di sana kan kita statusnya itu kan sebagai student-athlete dan memang harus membagi waktu sebagai student, sebagai atlet juga. Dan di sana saya memang fokusnya itu mau lebih ke tenis dan mau lebih memberikan waktu fokus untuk di tenisnya. Jadi saya memang pilih Sosiologi karena memang di sana itu kelas-kelas yang perlu diambil itu tidak sebanyak, tidak sebanyak jurusan-jurusan lain.

Berarti cita-cita kamu itu memang jadi petenis ya?

Memang dari kecil cita-citanya itu jadi petenis.

Inspirasinya petenis siapa?

Ashleigh Barty.

Ada gak petenis yang pengen kamu lawan saat ini? Dan kenapa dia?

Saat ini, yang masih aktif, Sabalenka pastinya ya, ya pastinya maulah lawan pemain-pemain yang sudah di top 10 besar. Karena kan kalau, saya juga penasaran gitu dengan apa yang, seperti apa gitu lawan mereka.

Petenis Inggris Emma Raducanu berjabat tangan dengan petenis Indonesia Janice Tjen pada pertandingan putaran kedua US Open di Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Kamis (28/8/2025). Foto: Mike Segar/REUTERS
Petenis Inggris Emma Raducanu berjabat tangan dengan petenis Indonesia Janice Tjen pada pertandingan putaran kedua US Open di Flushing Meadows, New York, Amerika Serikat, Kamis (28/8/2025). Foto: Mike Segar/REUTERS

Kemarin terakhir di US Open kamu melawan Raducanu ya, Emma Raducanu? Gimana tuh Janice pengalamannya melawan, melawan, ya beliau juga cukup oke lah di dunia tenis. Apa yang kamu rasakan saat itu, melawan Raducanu?

Ya pastinya kan di sana dia jauh lebih berpengalaman ya dibanding saya dan memang kan dia juga pemain yang bagus dan sudah terbukti kalau dia itu pemain bagus. Kan gak semua orang bisa juara Grand Slam dan dia salah satunya, salah satu orang yang bisa juara Grand Slam, pastinya ada sesuatu yang spesial dari dia dan memang saya masih harus banyak belajar dan harus lebih baik lagi.

Kalau awalnya kamu bisa ikut US Open itu gimana, Janice?

Dari awalnya itu kan memang kita harus mengumpulkan poin ya dari mulai dari ikut turnamen paling rendah, W15, W35 dari ITF itu ya kita mengumpulkan poin dan dari mengumpulkan poin itu kan jadi dapat ranking dan dari situ ya kita masuk ke kualifikasi.

Janice, pernah gak sih ditawarin main tenis tapi pakai bendera negara lain, bukan Indonesia?

Oh enggak sih, gak ada.

Terakhir nih, Janice. Apa target selanjutnya dari Janice?

Ya pastinya untuk harus lebih baik lagi dari yang sekarang dan tidak puas. Ya semoga ke depannya bisa mencapai ranking yang lebih tinggi lagi.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com. By using Blogtrottr, you agree to our policies, terms and conditions.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url