Contoh penggunaan tumbler di area kampus (Dok. Pribadi: Erlin Nursifa)
Mahasiswa dan Kebiasaan Sustainable Living
Di tengah isu krisis iklim dan meningkatnya perhatian pada gaya hidup berkelanjutan, mahasiswa mulai menunjukkan kepedulian melalui kebiasaan sederhana: membawa tumbler atau wadah minum pribadi ke kampus. Kebiasaan ini menjadi bagian dari gerakan sustainableliving yang semakin populer, terutama karena dampaknya langsung terasa dalam pengurangan sampah plastik sekali pakai.
Di berbagai kampus, tumbler kini menjadi barang wajib yang selalu dibawa mahasiswa. Selain praktis, kebiasaan ini juga mencerminkan perubahan pola pikir generasi muda yang semakin sadar akan pentingnya hidup minim sampah atau zero waste. Ini menunjukkan bahwa gaya hidup ramah lingkungan sudah bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan.
Dampak Nyata Kebiasaan Membawa Tumbler
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat bahwa sampah plastik menjadi salah satu penyumbang terbesar limbah nasional. Botol plastik dan gelas cup air mineral termasuk yang paling banyak ditemukan di tempat pembuangan akhir. Dalam konteks ini, penggunaan tumbler memiliki peran penting.
Dengan membawa wadah minum pribadi, seorang mahasiswa dapat mengurangi puluhan hingga ratusan sampah plastik dalam setahun. Jika dilakukan secara kolektif, potensi pengurangan sampah plastik di lingkungan kampus akan sangat signifikan. Tidak hanya meringankan beban TPA, tetapi juga mengurangi pencemaran sungai dan laut.
Selain itu, kebiasaan membawa tumbler memiliki manfaat ekonomi. Mahasiswa dapat menghemat pengeluaran harian karena tidak perlu membeli minuman kemasan. Tumbler juga mendorong konsumsi air putih yang lebih teratur dan menyehatkan.
Tantangan Menerapkan Gaya Hidup Ramah Lingkungan di Kampus
Meski dianggap sederhana, praktik sustainable living tidak selalu mudah. Banyak kampus belum menyediakan fasilitas pengisian ulang air bersih atau refill station yang memadai. Akibatnya, sebagian mahasiswa masih memilih membeli minuman dalam kemasan karena dianggap lebih praktis.
Budaya konsumtif dan rasa malas membawa barang tambahan juga menjadi kendala. Tidak sedikit mahasiswa yang ingin hidup minim sampah, tetapi belum sepenuhnya memiliki lingkungan yang mendukung. Terkadang, kantin kampus juga masih mengandalkan penjualan minuman kemasan karena belum adanya kebijakan pembatasan plastik.
Peran Kampus dalam Mendorong Kebiasaan Minim Sampah
Kampus memegang peran vital dalam mengembangkan gaya hidup ramah lingkungan. Sebagai ruang pendidikan, kampus idealnya tidak hanya mengajar teori, tetapi juga menyediakan fasilitas yang mendukung perilaku berkelanjutan.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan kampus antara lain:
Menyediakan refill station di setiap gedung atau sudut kampus.
Memberlakukan aturan kantin ramah lingkungan, seperti mengurangi penjualan minuman kemasan.
Memberikan insentif, misalnya diskon untuk mahasiswa yang membawa tumbler.
Mengadakan edukasi rutin tentang pentingnya gaya hidup minim sampah.
Dengan dukungan fasilitas dan kebijakan yang jelas, mahasiswa akan lebih mudah menerapkan kebiasaan membawa tumbler sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan.
Langkah Kecil untuk Masa Depan yang Lebih Bersih
Membawa tumbler hanyalah langkah kecil, tetapi memiliki dampak besar bagi masa depan bumi. Kebiasaan ini membuktikan bahwa mahasiswa bisa menjadi motor perubahan melalui tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari. Gaya hidup ramah lingkungan bukanlah sesuatu yang sulit, asalkan ada kemauan dan dukungan yang memadai.
Pada akhirnya, sustainableliving bukan tentang mengikuti tren, melainkan bentuk tanggung jawab moral terhadap lingkungan. Kampus sebagai "rumah kedua" mahasiswa harus memastikan bahwa kebiasaan baik seperti ini tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi budaya baru yang membawa kita menuju masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan.