Buat kamu yang pernah bertanya-tanya kenapa harga bra bisa hampir sama, bahkan kadang lebih mahal dari pakaian luar, kamu nggak sendiri. Banyak perempuan penasaran kenapa satu pakaian dalam yang kecil bisa punya label harga setinggi itu.
Jawabannya terletak pada kompleksitas proses pembuatannya. Mulai dari jumlah komponen yang rumit, tenaga ahli yang dibutuhkan, hingga riset dan pengujian berulang agar bra bisa benar-benar menopang tubuh dengan nyaman. Simak rangkuman kumparanWOMAN di bawah ini untuk tahu apa saja faktor yang membuat harga bra bisa semahal pakaian luar.
Produksi dan kompleksitas desain memengaruhi harga
Ilustrasi bra. Foto: Happy_Nati/Shutterstock
Sama seperti produk lain, skala produksi punya pengaruh besar terhadap harga jual. Brand besar bisa menekan biaya per unit karena memproduksi dalam jumlah besar, sedangkan produsen kecil yang membuat bra secara terbatas tidak bisa menikmati keuntungan serupa. Itulah sebabnya harga bra di butik bisa mencapai Rp 1,6 juta per potong, sementara di department store kamu bisa menemukannya sekitar Rp 100–200 ribu.
Namun, skala produksi bukan satu-satunya aspek yang mempengaruhi harga bra, bra termasuk salah satu jenis pakaian paling kompleks. Dilansir Teen Vogue, dalam satu bra bisa terdapat 25 hingga 100 komponen kecil seperti cup, tali, pengait, busa, renda, hingga kawat penopang.
Setiap bagian punya fungsi spesifik dan harus dijahit dengan presisi agar bra tetap nyaman serta efektif menopang tubuh. Proses ini membuat waktu pengerjaan dan biaya kontrol kualitasnya jauh lebih tinggi dibandingkan pakaian biasa seperti kaus atau celana.
Meski terlihat kecil, bra juga sebenarnya merupakan produk hasil rekayasa tiga dimensi. Desainnya dibuat untuk menyesuaikan kontur tubuh dan memberikan dukungan dari berbagai sisi. Ukuran yang lebih besar membutuhkan pola, bahan, dan konstruksi berbeda dari ukuran kecil.
Dengan semakin besar beban yang harus ditopang, semakin rumit pula strukturnya. Hal inilah yang menjadikan desain bra tampak sederhana di luar, tapi sangat teknis di baliknya.
Keahlian dan presisi jadi kunci utama
Ilustrasi bra di department store. Foto: Chay_Tee/Shutterstock
Bra tidak bisa dibuat sembarangan. Proses perakitannya membutuhkan tenaga terampil yang memahami bentuk tubuh perempuan dan cara menjaga presisi jahitan. Sebagian besar tahap produksinya dilakukan secara manual untuk memastikan setiap komponen menyatu dengan sempurna.
Kesalahan sekecil apa pun bisa memengaruhi kenyamanan dan daya topang bra. Untuk itu, penjahit bra harus melalui pelatihan khusus. Keahlian dan ketelitian inilah yang berkontribusi besar terhadap harga akhir produk.
Riset fit, bahan, dan kenyamanan punya biaya tinggi
Ilustrasi bra. Foto: Happy_Nati/Shutterstock
Untuk menghasilkan bra yang benar-benar pas di tubuh, perusahaan perlu melakukan riset fit dan uji coba pada berbagai ukuran serta bentuk tubuh perempuan. Riset ini memakan waktu, biaya, dan tenaga. Setiap model harus diuji agar tidak menimbulkan ketidaknyamanan di area dada, bahu, ataupun punggung.
Selain riset model, riset bahan juga punya peran penting. Bahan seperti mikrofiber, renda halus, atau kain berteknologi tinggi yang bisa menyerap keringat harus dipilih dengan cermat agar terasa lembut di kulit, tapi di saat yang sama mampu menopang payudara dengan baik sehingga tidak membuat punggung atau lehermu sakit. Paduan bahan, riset, dan teknik konstruksi inilah yang membuat bra bisa fungsional dan tahan lama.
Jadi, kalau kamu menemukan bra dengan harga yang terasa tinggi, mungkin itu sepadan dengan kenyamanan dan dukungan yang kamu dapatkan setiap hari.