Ladies, kamu sadar nggak sih kalau saat ini hampir berbagai platform e-commerce memiliki opsi pembayaran menggunakan pay later? Sistem pembayaran pay later ini pada dasarnya adalah cara pembayaran yang fleksibel. Pay later memungkinkan kamu untuk membeli barang dengan sistem "bayar belakangan" dan dilunasi ketika jatuh tempo.
Dilansir GoodStats, OJK mencatat adanya peningkatan rata-rata pengguna pay later di Indonesia setiap tahunnya yang mencapai angka 144,5%. Peningkatan jumlah pengguna ini bukan hanya terjadi di Indonesia, Ladies. Mengutip Juniper Research, para ahli di industri fintech menemukan bahwa hingga tahun 2028 jumlah pengguna buy now, pay later akan melebihi angka 670 juta secara global. Fenomena lonjakan ini juga memunculkan istilah "cute debt".
Apa itu cute debt?
"Cute debt" merupakan fenomena ketika jasa finansial ini menggunakan strategi marketing tertentu yang mendorong perempuan untuk menggunakan jasa keuangan mereka.
Salah satu taktik marketing paling umum adalah pink marketing, sebuah strategi ketika perusahaan mendesain produk dan pesan sesuai dengan kebutuhan, motivasi, dan perilaku perempuan. Contoh taktik marketing ini di jasa keuangan adalah kampanye bertema belanja self-reward.
Melalui desain aplikasi yang estetik sampai promosi dengan bahasa yang ringan, mudah dimengerti, dan dekat dengan keseharian perempuan, perusahaan berusaha membuat berhutang tampak lebih ringan.
Apakah perempuan dijadikan target?
Laporan perilaku pengguna pay later di Indonesia oleh Kredivo menunjukkan bahwa pada 2023 rata-rata laki-laki membeli 46 produk menggunakan pay later dalam setahun, sementara rata-rata perempuan membeli 40 produk.
Walaupun data menunjukkan pengguna pay later masih didominasi laki-laki, Ladies, proporsi transaksi perempuan selalu meningkat tiap tahunnya.
Menurut Financial Technology Association, layanan pay later paling banyak digunakan perempuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun gaya hidup. Mulai dari skincare, fashion, hingga traveling, pay later kerap menjadi "penolong instan".
Namun, Ladies, di balik keuntungan menggoda dari "cute debt", tetap ada konsekuensi yang harus diwaspadai. Usahakan untuk tidak termakan cicilan yang terlihat kecil di awal, perhitungkan juga bunga dan biaya tambahan sebelum mantap menggunakan pay later.
Jika tidak bijak mengatur keuangan, tagihan yang awalnya terlihat ringan bisa menumpuk dan jadi beban finansial. Selalu pastikan kamu belanja sesuai kemampuan, jangan lupa untuk mencatat jatuh tempo, dan jangan sampai terlena dengan strategi marketing yang dikemas dalam berbagai rupa.