Ilustrasi anak balita mengalami pneumonia. Foto: Shutter Stock
Moms, sering kali sesak napas pada bayi maupun anak membuat orang tua panik. Tapi wajar saja, karena kondisi ini bisa berhubungan dengan masalah serius pada pernapasan. Namun, tidak semua sesak napas berarti gawat darurat. Orang tua perlu memahami tanda-tanda normal dan kapan harus segera membawa si kecil ke rumah sakit.
Menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Reza Abdussalam, SpA, sesak napas pada anak umumnya disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan. Beberapa contohnya adalah pneumonia, bronkiolitis, croup, hingga asma. Selain itu, sesak napas juga bisa terjadi akibat benda asing yang masuk ke saluran napas.
Agar tidak bingung membedakan mana napas normal dan mana yang tergolong sesak, orang tua perlu mengetahui respiration rate (jumlah napas per menit) sesuai usia anak:
Bayi 0–2 bulan: kurang dari 60 kali/menit
Bayi 2–12 bulan: kurang dari 50 kali/menit
Anak 1–5 tahun: kurang dari 40 kali/menit
Anak di atas 5 tahun: kurang dari 30 kali/menit
Jika frekuensi napas anak melebihi angka tersebut, maka ia bisa dikatakan mengalami sesak napas.
Selain menghitung napas, orang tua juga bisa mengenali sesak napas dari tanda-tanda fisik. Misalnya:
Cuping hidung kembang-kempis saat bernapas
Terlihat tarikan dinding dada (retraksi)
Anak tampak gelisah, sulit beraktivitas, atau cepat lelah
Bila sudah berat, dapat terjadi desaturasi (kadar oksigen menurun)
Kondisi-kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera, Moms.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Hal terpenting adalah tetap tenang. Panik justru membuat penanganan pertama menjadi tidak optimal.
"Kalau anak sesak, tetap tenang. Buka bajunya, lihat frekuensi napas dan ada tidaknya tarikan dada. Kalau memberat, segera bawa ke IGD." dr. Reza Abdussalam, SpA, Dokter Spesialis Anak, Expert kumparanMOM, Selasa (26/08)
Sesak napas bisa memiliki penyebab yang berbeda-beda, sehingga pengobatannya juga harus sesuai diagnosis medis, Moms.