Pesan mencekam di grup WhatsApp "Mom Hebat Squad #5" itu datang pukul 21.52 WIB, Kamis (24/7). Pengirimnya, seorang ibu berinisial K, yang melaporkan bahwa ia dan 3 anaknya yang masih kecil dikunci di dalam kamar oleh suaminya.
K menuturkan bahwa ia dan anaknya dipukuli oleh suami, bahkan perilaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tersebut kerap terjadi sejak 2022 dan telah dilaporkan ke polisi.
Ke grup, K memberikan titik lokasinya, serta memberikan alamat tempat tinggalnya, yakni di Jalan Villa Kalisari, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.
Penghuni grup tersebut, yakni para teman kumparanMOM, serentak bereaksi: Ada yang memberikan saran menyelamatkan diri, mencarikan nomor telepon polisi, menghubungi Pemadam Kebakaran (Damkar), bahkan memesan ojek online (ojol) untuk mendatangi lokasi.
Admin grup pun meneruskan informasi tersebut ke redaksi, yang berujung pada datangnya petugas polisi ke alamat korban atas pelaporan.
Kisah Mom yang Pesankan Ojol
Ilustrasi ibu. Foto: Shutterstock
Mom yang memesankan ojol adalah Christia Eradita Riswanto alias Dhita (36 tahun).
Awalnya, Dhita mencoba menelepon Damkar dan Polsek Cimanggis, namun upayanya belum membuahkan hasil.
Tak kehilangan akal, Dhita kemudian memesan ojol via aplikasi Grab. Modalnya cuma alamat yang dituliskan korban di grup.
"Pertama saya ditolak, bapaknya enggak mau tolongin padahal saya sudah jelaskan di chat. Akhirnya saya coba lagi, alhamdulillah dapat," ujar Dhita saat dihubungi, Jumat (25/7).
"Sama persis seperti yang pertama. Saya jelaskan di chat ke Bapak Grab-nya, dan langsung Bapaknya mau nolongin," kata Dhita, ibu rumah tangga yang pernah jadi guru TK itu.Penampakan rumah kos yang ditempati korban. Dok: kumparan
Dhita yang merupakan ibu 4 anak ini kemudian mengarahkan ojol ke tempat tinggal korban, yang ternyata adalah indekos.
Ojol ini bahkan naik ke lantai 2 untuk menyalakan saklar token listrik yang dimatikan oleh suami korban.
Kisah dari Ojol
Muhammad Refaldi alias Aldi, ojol yang jadi penolong. Dok: kumparan
Ojol yang menjadi penolong tersebut bernama Muhammad Refaldi alias Aldi (33 tahun), warga Cijantung, Jakarta Timur.
Aldi bercerita, kala itu ada orderan dari Dhita yang cukup aneh karena jarak pengantarannya dekat sekali.
"Dia (Dhita) bilang, 'Ini cuma minta tolong nyalain listrik', oh ya sudah, saya ambil. Terus dia chat lagi, 'Bang ini ada orang disekap oleh suaminya', saya kaget," kata Aldi saat dihubungi.
Sejak pukul 22.36 WIB tatkala datang orderan dari Dhita tersebut, Aldi berfokus pada misi penyelamatan, tidak lagi mengambil orderan lain.
Aldi pun melapor ke satpam kompleks perumahan tapi tidak langsung mendapatkan bantuan. Pak RT setempat juga sedang tidur.
Aldi pun menunggu polisi yang baru datang pukul 00.30 WIB, Jumat (25/7). Hingga kemudian polisi tersebut pergi, Aldi tetap di lokasi hingga pukul 04.00 WIB.
Polisi yang datang ke rumah kos korban. Dok: kumparan
Aldi pun sempat berkomunikasi dengan korban, dan menawari korban untuk pergi menyelamatkan diri serta menitipkan anak di panti asuhan, tapi korban menolak.
"Korban usia 23 tahun, suaminya 24 tahun. Punya tiga anak yang masih kecil. Korban ibu rumah tangga, suaminya katanya freelance," ujar Aldi.
"Korban bilang, dia enggak ada sanak saudara. Mau kabur juga perlu modal, kata dia begitu," kata Aldi yang punya dua anak laki-laki itu.
Aldi pun pamit pulang setelah menitipkan ke korban agar menghubunginya bila ada sesuatu terjadi.
Kasus KDRT Berakhir Damai
Ilustrasi polisi. Foto: Shutterstock
Pada akhirnya, pasangan suami-istri tersebut dimediasi oleh polisi hingga Ketua RT, memilih jalan damai dan tidak berlanjut ke jalur hukum.
"Mereka sepakat membuat keputusan bersama, hitam di atas putih, yang disaksikan oleh kami dan ditandatangani oleh kedua belah pihak serta Pak RT setempat," kata Kapolsek Cimanggis Kompol Jupriono, Jumat (25/7).
Menurut Jupriono, alasan damai adalah mempertimbangkan nasib tiga anak mereka yang masih kecil.
Jupriono menuturkan bahwa motif KDRT tersebut adalah karena faktor ekonomi.