Ramadan dan Tradisi Buka Bersama

Halaman ini telah diakses: Views
Pada dasarnya, tradisi bukber merupakan kultur yang harus dijaga karena menjadi ajang silaturahim tetapi sebagian dari kita memanfaatkan sebagai momen pamer. Photo: Spencer Davis/unsplash.com
Pada dasarnya, tradisi bukber merupakan kultur yang harus dijaga karena menjadi ajang silaturahim tetapi sebagian dari kita memanfaatkan sebagai momen pamer. Photo: Spencer Davis/unsplash.com

Beberapa hari yang lalu, saya menonton sebuah potongan video di media sosial yang menayangkan sekumpulan anak muda sedang buka bersama (bukber). Tradisi yang sudah menjamur di Indonesia setiap kali momen bulan Ramadan.

Sekilas tidak ada yang menarik dari video tersebut karena bukber sudah sangat umum di tengah masyarakat Indonesia bahkan umat agama lain juga seringkali mengadakan bukber. Setiap kantor hampir wajib mengadakan bukber untuk mempererat silaturahmi antar karyawan.

Bukber bukan lagi tradisi keagamaan semata tetapi bertransformasi menjadi tradisi budaya yang dilakukan oleh semua masyarakat dalam konteks yang berbeda namun dengan tujuan yang sama yaitu mempererat silaturahmi.

Setelah beberapa detik berlalu, saya baru sadar bahwa ada nilai yang adiluhung di video bukber yang saya tonton. Ternyata salah satu dari mereka adalah pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya dengan gerobak.

Teman-temannya berinisiatif untuk buka dengan menu dagangan temannya yang seorang pedagang. Sambil duduk di teras rumah, mereka menunggu temannya menyajikan menu buka puasa.

Saya sedikit terenyuh melihat video tersebut ketika menyadari bahwa mereka adalah anak muda yang rentan memamerkan kekayaan di setiap momen kumpul-kumpul tetapi saya sama sekali tidak melihat fenomena semacam itu di video.

Tidak ada dari mereka yang menaruh kunci mobil mewah di meja, tidak ada HP iphone terbaru yang sengaja diletakkan di saku depan agar kameranya terlihat, tidak ada barang-barang mencolok yang membuat teman lain merasa inferior, dan tentu mereka memaknai bukber bukan ajang pamer tetapi momentum berkumpul bersama kawan lama melepas rindu.

Bukber dan fenomena pamer kekayaan sudah saya tulis satu dekade silam. Dulu, saya pernah ikut dalam beberapa kali kesempatan bukber dengan teman SMA yang kemudian saya menjumpai kondisi yang menurut saya tidak terlalu menyenangkan, banyak yang terkesan memamerkan apa yang mereka punya saat ini.

Selain bukber, halal bihalal juga menjadi momentum yang tidak kalah menjengkelkan ketika niat kita untuk pamer. Sekitar 10 tahun lalu, saya diundang oleh teman-teman SMA ikut halal bihalal. Saya mengiyakan ajak mereka karena saya cukup dekat dengan beberapa di antara mereka.

Halal bihalal tidak hanya sehari tetapi beberapa hari karena sistemnya, semua rumah teman dikunjungi, bahkan dalam sehari, kami bisa pindah tempat beberapa kali menjelang sore.

Di hari pertama, tidak ada kejanggalan yang saya temui dan semua baik-baik saja. Kami hanya mengenang masa-masa SMA termasuk cerita asmara di antara kami.

Hari kedua, mungkin sedikit agak aneh karena ada salah seorang di antara kami yang tidak ganti baju. Hari sebelumnya, dia mengenakan baju seragam kantornya yang tentu semua dari kami sangat familiar dengan kantornya yang memang terkenal.

Hari kedua pun demikian. Dia masih mengenakan baju yang sama sementara yang lain sudah mengganti baju. Saya cukup dekat dengannya karena pernah sekelas waktu SMA. Dia sangat pendiam dan cukup sabar saat SMA tetapi pada saat sudah kerja, ada perubahan pribadi yang sangat signifikan.

Tentu sangat prematur untuk mengindikasikan dia memiliki intensi untuk pamer tetapi menurut saya bahwa jika baju tidak diganti dalam beberapa hari, tentu memiliki pemaknaan tersendiri.

Hasrat pamer memang seringkali tidak tertahankan bagi manusia yang baru memiliki sesuatu yang dianggap prestisius. Mungkin sebelumnya mereka tidak mampu memilikinya maka ketika semua terwujud, mereka ingin mendeklarasikan kepada orang lain bahwa lihat, saya sudah sukses.

Di circle yang lain, saya juga pernah diundang untuk datang bertemu dengan beberapa teman lama di kampung. Beberapa dari kami tidak bisa hadir, alhasil hanya kami bertiga. Persoalannya, kami bertiga berbeda profesi tetapi dalam hal ini, saya tidak ada intensi untuk membuat hierarki atas profesi kami.

Salah seorang dari kami sudah menjadi di sebuah instansi sementara teman saya yang lain bekerja belum tetap. Dalam obrolan bertiga, teman yang pejabat selalu membahas pekerjaan yang membuat saya sedikit gerah. Tentu bukan karena merasa iri atas pencapaiannya tetapi niat saya sekadar untuk berbagi kisah-kisah masa lalu.

Akhirnya saya dengan tegas mengatakan kepadanya bahwa saya datang di sini bukan untuk membahas pekerjaan tetapi ingin bercanda mengenang masa-masa muda dulu.

Saya menyadari bahwa teman saya yang lain tidak menanggapi apa pun ketika dia sudah menceritakan masalah pekerjaan. Mungkin merasa tidak nyaman.

Begitulah.

Meskipun tradisi bukber dan halal bihalal sudah sering dikritik karena tujuannya sudah berubah namun tetap saja masih banyak yang akan menjadikannya sebagai ajang membranding dirinya.

Saya sendiri memilih untuk tidak melakukan hal itu. Terlalu remeh nan kerdil.

Renungan Ramadan #18

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url