Ahli Ganjar-Mahfud di MK: Bansos Pengaruhi Pemilih

Halaman ini telah diakses: Views
Pakar Psikologi Hamdi Muluk dalam persidangan sengketa Pilpres 2024 di gedung MK, Jakarta, Selasa (2/4/2024). Foto: YouTube/MKRI
Pakar Psikologi Hamdi Muluk dalam persidangan sengketa Pilpres 2024 di gedung MK, Jakarta, Selasa (2/4/2024). Foto: YouTube/MKRI

Ahli yang dihadirkan kubu Ganjar-Mahfud di Mahkamah Konstitusi (MK), Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk, berbicara soal pengaruh bantuan sosial (bansos) terhadap para pemilih dalam pemilu. Berdasarkan hasil studi, ia menjelaskan bahwa 29 persen faktor masyarakat memilih karena adanya penggelontoran bansos.

Hal itu disampaikan Hamdi saat memberikan keterangan di sidang sengketa Pilpres, di gedung MK, Jakarta Pusat, Selasa (2/4).

"Tapi 29% itu kira-kira disumbang oleh faktor penggelontoran Bansos itu. Nah ini studi di seluruh beberapa negara secara universal," kata Hamdi.

Ia pun menjelaskan alasan politisasi bansos menjadi masalah dalam demokrasi Indonesia, di konteks pemilu. Sebab bansos hanya dapat dikendalikan oleh pemegang otoritas, yaitu petahana, atau calon yang didukungnya. Sementara penantangnya tidak.

"Jadi kalau kita andaikan petahana maju, mungkin dalam konteks sekarang orang akan challenge, lah petahana kan tidak maju? Tapi ada, istilah teman saya, setengah petahana gitu, setengah petahana, bercandannya gitu, jadi anaknya yang maju. Dan tinggal dibangun Bagaimana persepsi publik dibentuk bahwa setengah petahana dia juga akan mewakili petahana, nah di situ mekanisme psikologisnya berlangsung," ucapnya.

Penggelontoran bansos, kata Hamdi, juga menimbulkan ketergantungan pada pemilih. Sehingga ia menegaskan bahwa penggunaan bansos dapat mempengaruhi dan memanipulasi para pemilih.

"Jadi itu kira-kira kesimpulan saya bahwa nyata bahwa ini [bansos] mempengaruhi pemilih," tandas dia.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url